About

Showing posts with label makalah umum. Show all posts
Showing posts with label makalah umum. Show all posts

Sunday, 21 October 2018

DAMPAK TEORI KEPRIBADIAN MENURUT EYSENK

DAMPAK TEORI KEPRIBADIAN MENURUT EYSENK TERHADAP PENDIDIKAN TUGAS RESUME Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian oleh Bapak Fathol Haliq, M.Si. Di susun oleh: Nama : Badrud Tamam NIM :18201501010033 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN 2017 Dampak Teori kepribadian menurut eysenk terhadap pendidikan A. Kepribadian menurut Eysenk Kepribadian adalah sebenarnya merupakan seluruh potensi tingkah laku individu yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian individu berasal dan berkembang oleh adanya interaksi empat faktor, yaitu inteleginsi, karakter, temperamen, dan somatic. B. Dimensi Kepribadian Tiga dimensi kepribadian Eysenck adalah Ekstraversi (E), Neurotisme (N), dan Psikotik (P). Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian. 1. Ekstraversi Konsep yang dimiliki Eysenck mengenai ekstraversi dan introversi lebih dekat dengan penggunaan popular dari kedua istilah ini. Orang-orang ekstrover mempunyai karakteristik utama, yaitu kemampuan bersosialisasi dan sifat impulsif, senang bercanda, penuh gairah, cepat dalam berpikir, optimis, serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan orang-orang yang menghargai hubungan mereka dengan orang lain. Orang-orang introvert mempunyai karakteristik sifat-sifat yang berkebalikan dari mereka yang ekstrover. Mereka dapat dideskripsikan sebagai pendiam, pasif, tidak terlalu bersosialisasi, hati-hati, tertutup, penuh perhatian, pesimistis, damai, tenang, dan terkontrol. Akan tetapi, menurut Eysenck, perbedaan paling mendasar antara ekstraversi dan introversi bukan terletak pada perilaku, melainkan pada sifat dasar biologis dan genetiknya. Eysenck yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara orang ekstrover dan introvert adalah tingkat rangsangan kortikal-suatu kondisi fisiologis yang sebagian besar diwariskan secara genetic daripada dipelajari.oleh karena orang ekstrover mempunyai tingkat rangsangan kortikal yang lebih rendah daripada yang introvert, mereka mempunyai ambang sensoris yang lebih tinggi sehingga akan bereaksi lebih sedikit pada stimulus sensoris. Sebaliknya, orang-orang introvert mempunyai karakteristik berupa tingkat rangsangan kortikal yang lebih tinggi, sehingga mempunyai ambang sensoris yang lebih rendah dan mengalami reaksi yang lebih banyak pada stimulus sensoris. 2. Neurotisme Seperti ekstraversi-introversi, neurotisisme-kestabilan mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck menyatakan bahwa beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif- kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar- fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme. Orang-orang yang mempunyai skor tinggi dalam neurotisme mempunyai kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional, dan mempunyai kesulitan untuk kembali ke kondisi normal setelah tersimulasi secara emosional. Mereka sering mengeluhkan gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala dan sakit punggung, serta mempunyai masalah psikologis yang kabur, seperti kekhawatiran dan kecemasan.Akan tetapi, neurotisme tidak selalu mengindikasikan suatu neurosis dalam artian tradisional dari istilah tersebut. Orang dapat saja mempunyai skor tinggi dlam neurotisme, tetapi terbebas dari gejala psikologis yang bersifat menghambat. Neurotisme dapat dikombinasikan dengan titik-titik yang berbeda-beda dalam skala ekstravers, tidak ada satu sindrom yang dapat mendefinisikan perilaku neurotis.Teknik analisis factor Eysenck mengasumsikan indepedensi factor-faktor, yaitu bahwa skala neurotisme mempunyai sudut siku-siku dengan skala ekstraversi (mengindikasikan kolerasi nol). Oleh karna itu, beberapa orang dapat mempunyai skor yang tinggi dalam skala N, tetapi menunjukkan gejala-gejala yang berbeda, bergantung pada derajat ekstraversi atau introversi mereka. Beriut gambar hubungan Ekstrover-Introver dan Neurotisme-Kestabilan. 3. Psikotik Teori awal Eysenck mengenal kepribadian didasrai oleh dua dimensi kepribadian- ekstraversi dan neurotisme. Setelah beberapa tahun merujuk psikotik (P) secara tidak langsung sebagai faktor independen kepribadian, Eysenck akhirnya menaikkannya ke posisi yang setara dengan E dan N. Seperti ekstraversi dan neurotisme, P adalah faktor yang bersifat bipolar, dengan psikotik dalam satu kutub dan superego dalam kutub yang lainnya. Orang dengan skor P tinggi biasanya egosentris, dingin, tidak mudah menyesuaikan diri, impulsif, kejam, agresif, curiga, psikopatik, dan antisosial. Orang dengan skor psikopatik yang rendah (yang mengarah pada fungsi superego) cenderung bersifat altruis, mudah bersosialisasi, empati, peduli, kooperatif, mudah menyesuaikan diri, dan konvensional. Eysenck memiliki hipotesis bahwa orang-orang yang memiliki skor psikotik yang tinggi mempunyai “predisposisi untuk menyerah pada stres dan mempunyai penyakit psikotok” yang tinggi. Model diatesis-stres ini mengidendikasikan bahwa orang-orang yang mempunyai skor P yang tinggi, secara genetis lebih rentan terhadap stres dari pada yang mempunyai skor P yang rendah. Pada periode stres yang rendah, orang dengan skor P tinggi masih dapat berfungsi dengan normal, tetapi saat tingkat psikotik yang tinggi berinteraksi dengan kadar stres yang juga tinggi, orang tersebut menjadi lebih rentan terhadap gangguan psikotik. Sebaliknya, orang dengan skor P rendah tidak terlalu rentan pada psikosis yang berhubungan dengan stres, dan mungkin tidak akan mengalami kehancuran secara psikotik pada periode stres yang ekstrem. Menurut Eysenck, semakin tinggi skor psikotik, semakin rendah kadar stres yang dibutuhkan untuk menimbulkan reaksi psikotik. Dengan demikian, pandangan Eysenck terhadap kepribadian memperbolehkan setiap orang untuk diukur dalam tiga faktor yang independen, dan skor yang dihasilkan akan dipetakan pada ruang dengan tiga koordinat. Sebagai contoh, orang F pada gambar dibawah memiliki skor yang cukup tinggi pada superego, tinggi pada ekstraversi, dan berada mendekati titik tengah pada skala neurotisme/stabilitas. Dalam bentuk yang serupa, skor dari masing-masing orang dapat di dalam ruang tiga dimensi. C. Dampak teori kepribadian Eysenk Dari penjelasan diatas dapatlah diambil kesimpulan beberapa dampak kepribadian menurut Eysenk yang sudah menjadi temuan riset terhadap pendidikan. Hasil penelitian ini berupa keadaan siswa atau mahasiswa yang mempunyai kepribadian ekstrover atau introver. Kebiasaan ekstrover dan introver menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa. Riset tersebut menguji apakah perbedaan kepribadian tersebut diasosiasikan dengan perbedaan pemilihan dan bagaimana cara belajar. Sesuai dengan teori perbedaan individual Eysenk, ditemukan beberapa hal berikut: 1. Siswa ekstrover lebih sering memilih belajar dilokasi perpustakaan yang memberikan stimulasi eksternal disbanding siswa introver. 2. Ekstrover mengambil istirahat belajar yang lebih banyak disbanding introver. 3. Ekstrover memilih tingkat suara yang lebih tinggi dan peluang sosialisaiyang lebih banyak dibandingkan introver. Jadi, dengan adanya teori kepribadian Eysenk guru dapat mengetahui apa hal yang cocok bagi siswa yang ia ajarkan. Guru dapat mengembangkan motivasi siswa dengan menciptakan suatu lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswanya. Guru harus jeli dalam melihat kelompok siswa yang ada dikelasnya, apakah tipe individualis, kooperatif, atau kompetitif. Daftar Pustaka Prawira, Purwa Atmaja, psikologi kepribaian, Jogjakarta: Ar-ruzz Media,2013. Pervin, Lawrence A., Psikologi kepriadian, teori dan penelitian, Jakarta: Prenada Media Group, 2004.

Strategi pembelajaran

PEMBAHASAN A. Pengertian Strategi Pembelajaran Istilah strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja” dalam bahasa Yunani. Sebagai kata benda yaitu stategos merupakan gabungan kata “stratos” (militer) dengan “ago” (memimpin). Sedangkan sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan). Dalam kamus The American Herritage Dictionary dikemukakan bahwa strategy is the art or skill of using stategents in politics, business, courtship, or the like. Hardy mengemukakan strategi sebagai suatu pola yang direncanakan untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Sedangkan istilah pembelajaran (intruction) merupakan upaya membelajarkan seseorang melalui berbagai upaya, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Gagne dan Briggs (1979) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian events yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi peserta didik sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan mudah. Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieve a particular educational goal (J.R.David,1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Wina Sanjaya (2006) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Kemp (1995), mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. B. Metode Pembelajaran Metode menurut J.R.David dalam Teaching Strategies For College Class Room (1976) ialah “a way in achieving something” (cara untuk mencapai sesuatu). Untuk melakukan strategi digunakan seperangkat metode pengajaran tertentu. Dalam pengertian demikian maka metode pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi pembelajaran. Dalam bahasa arab, metode dikenal dengan istilah at-thariq yang berarti jalan atau cara. Metode digunakan untuk mengkreasi lingkungan belajar yang di dalamnya melibatkan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi tidak menutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapaat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, di antaranya: 1. Metode ceramah Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ceramah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori. 2. Metode demonstrasi Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif untuk membantu peserta didik dalam mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu baik sebenarnya atau sekedar tiruan. 3. Metode simulasi Metode simulasi merupakan salah satu metode yang diturunkan dari strategi pembelajaran bermain peran (role playing). Simulasi dapat diartikan dengan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. 4. Metode diskusi Diskusi adalah suatu proses pertemuan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Metode diskusi merupakan salah satu metode yang diturunkan dari strategi pembelajaran partisipatif (Participative Teaching and Learning). 5. Metode tanya jawab Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic, sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan peserta didik. Metode ini merupakan salah satu dari implementasi strategi pembelajaran partisipasi (Participative Teaching and Learning) atau strategi pembelajaran ekspositori. 6. Metode sistem regu (Team Teaching) Team teaching pada dasarnya ialah metode mengajar dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok peserta didik, jadi kelas dihadapi beberapa guru. Metode team teaching merupakan implementasi dari salah satu atau gabungan dari beberapa strategi pembelajaran antara lain: bermain peran, pembelajaran partisipatif dan strategi pembelajaran ekspositori. 7. Metode kerja kelompok Metode kerja kelompok merupakan implementasi dari slah satu atau gabungan dari beberapa strategi pembelajaran, antara lain: pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning), bermain peran (Role Playing), dan pembelajaran partisipatif (Participative Teaching and Learning). 8. Metode karyawisata (Field Trip) Karyawisata disini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. contoh: mengajak peserta didik ke gedung pengadilan untuk mengetahui sistem dan proses peradilan dalam satu jam pelajaran. Jika karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour. C. Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah gambaran kecil dari sebuah pembelajaran secara keseluruhan. Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran termasuk penggunaan media pembelajaran secara umum seperti buku-buku, komputer, dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan efektif dan efisien. Bruce Joyce dan Marsha Well dalam Dedi Supriawan dan A.Benyamin Surarega (1990) mengelompokkan model pembelajaran menjadi 4 kelompok, yaitu: 1. Model interaksi sosial Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field theory). Metode ini menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). 2. Model proses informasi Model ini berdasarkan teori belajar kognitif dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. 3. Model personal Model ini bertitik tolak dari teori humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. 4. Model sistem perilaku Model sistem perilaku menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta didik. Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memaniulasi peneguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku. Model pembelajaran ini dapat dijadikan pola pilihan bagi guru, artinya guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. D. Teknik Pembelajaran Dalam konteks pembelajaran, teknik adalah salah satu cara yang ditempuh guru untuk mengimplementasikan metode pembelajaran tertentu. Dalam hal ini, guru pun dapat menggunakan teknik yang berbeda meskipun dalam koridor metode yang sama. Secara teoritik begitu banyak teknik pembelajaran salah satu di antaranya sebagai berikut: 1. Teknik pembelajaran untuk mengaktifkan kelompok Proses belajar akan lebih aktif jika guru dapat mengkondisikan agar peserta didik terlibat secara aktif dan menciptakan hubungan yang dinamis antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain. Berikut ini beberapa jenis teknik pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan peserta didik secara kolektif. a. Listening Team Teknik ini dimkasudkan untuk mengaktifkan seluruh peserta didik dengamembag peserta didik secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing kelompok tersebut. b. Membuat Catatan Terbimbing Teknik ini guru memberikan satu barang yang disiapkan untuk mendorong peserta didik mencatat selagi guru mengajar. c. Pembelajaran Terbimbing Dalam teknik ini guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pelajaran. Cara ini merupakan modifikasi dari metode ceramah secara langsung. d. Pertanyaan Kelompok (Team Quiz) Teknik tim ini dapat meningkatkan kemampuan tangung jawab peserta didik tentang apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan. e. Perdebatan Aktif Perdebatan aktif merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan dalam diskusi. Artinya, perdebatan ini dapat menjadi sebuah metode untuk mengembangkan pemikiran dan refleksi peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik diposisikan secara berhadapan. 2. Teknik pembelajaran untuk mengaktifkan individu a. Teknik Membaca dengan Keras (Reading Aloud) Membaca suatu teks dengan keras dapat membantu peserta didik memfokuskan perhatian secara mental, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan meransang diskusi. Teknik ini mempunyai efek pada memusatkan perhatan dan membuat suatu kelompok yang kohesif. b. Setiap orang adalah guru (Everyone is a Theacher Here) Ini merupakan sebuah teknik yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Teknik ini memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik yang lain. c. Menulis Pengalaman Secara Langsung (Writing In The Here And Now) Dengan teknik menulis ini dapat membantu peserta didik merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami. E. Taktik Pembelajaran Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalnya,walaupun dua orang sama-sama menggunakan metode yang sama dalam situasi dan kondisi yang sama, akan tetapi taktik yang digunakan harus berbeda. Karena dalam hal ini, akan tampak keunikan ataupun kekhasan gaya pembelajaran yang dimiliki masing-masing guu sesuai dengan pengalaman, kemampuan, dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus seni bagi masing-masing guru. F. Pendekatan pembelajaran Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang memiliki beberapa arti di antaranya diartikan sebagai “pendekatan”. Dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat diartikan sebagai a way of beginning something (cara memulai sesuatu). Oleh karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan sebagai “cara memulai pembelajaran”. Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran. Menurut Philip R.Wallace (1992), pendekatan pembelajaran dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pendekatan konservatif (concervative approaches) dan pendekatan liberal (liberal approaches). Pendekatan konservatif (concervative approaches) memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagimana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. Guru yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima. Sedangkan pendekatan liberal (liberal approaches) adalaha pendekatan pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada siswa untuk mengembangkan strategi belajarnya sendiri. Istilah pendekatan konservatif ini disebut juga sebagai pendekatan yang berpusat pada guru (teacher entered approach) sedangkan pendekatan liberal disebut juga sebagai pendekatan yang berpusat kepada siswa (student centered approach). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran adalah cara umum yang ditempuh oleh gury dalam proses membelajarkan siswa. G. Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran Prinsip-prinsip dalam bahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Killen (1998), mengemukakan “ No teaching strategy is better than others in all circumtanse, so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make rational decisions about when each of the teaching strategies is likely to most effective”. Killen mengatakan bahwa guru harus mampu memilih strategi yng dianggap cocok dengan situasi dan keadaan. Oleh sebab itu, guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut: 1. Berorientasi pada tujuan Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan peserta didik mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Oleh karenanya, efektivitas pengembangan pengalaman belajar ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. 2. Aktivitas Belajar bukanlah hanya sekedar menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar peserta didik harus dapat menndorong peserta didik agar bisa beraktivitas melakukan sesuatu. Aktivtas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas psikis seperti aktivitas mental. 3. Individualitas Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Pleh sebab itu, pengalaman belajar dirancang untuk setiap peserta didik. Walaupun kita mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai ialah perubahan perilaku setiap peserta didik. 4. Integritas Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, melainkan juga pada pengembangan aspek afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu, merancang pengalaman belajar peserta didik, harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi. 5. Motivasi Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan peserta didik. Tanpa adanya motivasi, peserta didik tidak memiliki kemauan untuk belajar. oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam proses pembelajaran. Motivasi diartikan sebagai suatu dorongan yang memungkinkan peserta didik untuk melakukan sesuatu. Untuk membangkitkan motivasi peserta didik, guru harus dapat menunjukkan betapa pentingnya pengalaman dan pembelajaran bagi peserta didik. Oleh karena itu, peserta didik akan belajar bukan hanya sekedar untuk memperoleh pujian ataupun nilai, melainkan peserta didik didorong oleh keinginan mereka masing-masing untuk memenuhi kebutuhannya.

Perencanaan Pebelajaran PAI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setelah menganalisis perkembangan peserta didik dan merumuskan tujuan pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi, langkah selanjutnya dalam mendesain pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi adalah merancang materi pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa materi pembelajaran yang hendak dirancang tersebut, dirancang oleh guru berdasarkan tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam seperangkat kompetensi yang ada pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD). Jika kita tinjau kedudukan materi pembelajaran dalam konteks kurikulum, terdapat kesenjangan pada kurikulum 2006. Dalam implementasi kurikulum 2006, materi pembelajaran dinilai belum relevan dengan kompetensi yag dibutuhkan oleh peserta didik. Kemudian, dalam kurikulum 2006 materi pembelajaran juga masih terlalu luas dan kurang mendalam. Alhasil, materi yang terlalu luas tersebut hanya membuat beban belajar peserta didik terlalu berat. Melihat kesenjangan di atas maka dalam implementasi kurikulum 2013 materi pembelajaran yang di desain oleh guru diharapkan dapat relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh peserta didik, dan materi pembelajaran tersebut merupakan materi esensial. Idealisme dalam implementasi kurikulum 2013 dalam hal materi pembelajaran tersebut dapat terwujud apabila guru dapat merancang materi pembelajaran berbasis kompetensi. Itulah salah satu sebab mengapa dapat dikatakan bahwa desain pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi dapat mendukung implementasi kurikulum 2013. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian materi pembelajaran ? 2. Bagaimana klasifikasi materi pembelajaran ? 3. Bagaimana sumber materi pembelajaran ? 4. Bagaimana pengorganisasian materi pembelajaran ? 5. Bagaimana pengemasan materi pembelajaran ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian materi pembelajaran 2. Untuk mengetahui klasifikasi materi pembelajaran 3. Untuk mengetahui sumber materi pembelajaran 4. Untuk mengetahui pengorganisasian materi pembelajaran 5. Untuk mengetahui pengemasan materi pembelajaran BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Materi Pembelajaran Kata materi ini sering kali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diungkapkan bahwa materi diartikan ke dalam dua hal, antara lain sebagai berikut: (a) materi diartikan sebagai benda atau bahan atau segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata dan dapat disentuh; (b) materi diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bahan untuk dipikirkan, dibicarakan, dikarang, dan diuji. dari arti materi di atas, tampaknya arti materi yang kedualah yang pas atau dapat dikaitkan dengan materi pembelajaran. Jadi mudahnya, secara bahasa materi pembelajaran merupakan bahan yang dipikirkan, dibicarakan, dibahas, dan diujikan dalam kegiatan belajar peserta didik. Kemudian secara istilah, An Nahlawi mengungkapkan bahwa materi pembelajaran merupakan bahan berupa pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam memenuhi kompetensi yang telah ditetapkan. Bahan atau materi pelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Materi pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan dalam pengajaran yang berpusat pada materi pelajaran (subject-centered teaching), materi pelajaran merupakan inti dari kegiatan pembelajaran. Menurut subject centered teaching keberhasilan suatu proses pembelajaran ditentukan oleh seberapa banyak siswa dapat menguasai materi kurikulum. Materi pelajaran dapat dibedakan menjadi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude). Pengetahuan menunjuk pada informasi yang disimpan dalam pikiran (mind) siswa, dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus dihafal dan dikuasai oleh siswa, sehingga manakala diperlukan siswa dapat mengungkapkan kembali. Keterampilan (skill) menunjuk pada tindakan-tindakan (fisik dan non-fisik) yang dilakukan seseorang dengan cara yang kompetenuntuk mencapai tujuan tertentu. Sikap menunjuk pada kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini kebenarannya oleh siswa. Berdasarkan berbagai pengertian di atas maka materi pembelajaran haruslah dirancang oleh guru berdasarkan kompetensi yang telah ditetapkan dan hendak dicapai. Dapat juga dikatakan materi pembelajaran merupakan operasionalisasi ataupun penjabaran dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Standar Dasar (KD). B. Klasifikasi Materi Pembelajaran Dalam proses pembelajaran, materi pembelajaran bukanlah tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran merupakan sarana untuk mencapai seperangkat kompetensi sebagai tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya penentuan materi pembelajaran harus disusun berdasarkan berbagai kompetensi yang hendak dicapai. Mudahnya materi pembelajaran tersebut harus mengantarkan peserta didik menjadi sosok individu sebagaimana yang dideskripsikan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD). Untuk dapat merancang materi pembelajaran maka terlebih dahulu guru harus mengetahui bagaimana klasifikasi materi pembelajaran. Darwyn Syah mengungkapkan bahwa setidaknya ada sembilan macam materi pembelajaran, antara lain: a. Konsep, yaitu gagasan atau ide-ide yang memiliki ciri-ciri umum, misalnya beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia; b. Prinsip, yaitu kebenaran dasar yang menjadi titik tolak untuk berpikir dan sebagainya; c. Definisi, yaitu kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, serta ciri-ciri utama dari orang, benda, proses, dan aktivitas; d. Konteks, yaitu suatu uraian kalimat yang mendukung atau menjelaskan makna atau situasi yang dihubungkan dengan suatu kejadian; e. Data, yaitu keterangan yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian, baik berbentuk angka-angka maupun bukan angka yang diperoleh dari rekaman, pengamatan, wawancara, atau bahan tertulis serta pengalaman; f. Fakta, merupakan suatu keadaan atau peristiwa yang telah terjadi, dikerjakan, maupun dialami; g. Proses merupakan serangkaian peristiwa yang merupakan gerakan-gerakan perkembangan dari suatu benda atau manusia; h. Nilai merupakan sesuatu yang diharapkan, diinginkan, dan dicita-citakan oleh suatu masyarakat dan merupakan pengakuan masyarakat secara umum mengenai ukuran baik dan buruk; i. Keterampilan, yaitu kemampuan untuk melakukan dan mengerjakan sesuatu secara jasmaniah, misalnya menulis, membaca, berlari, berwudhu, gerakan shalat, dan sebagainya serta keterampilan ruhaniah seperti berpikir, menganalisis, membedakan dan sebagainya. Kemudian Merril mengklasifikasikan materi pembelajaran menjadi empat macam sebagai berikut: a. Fakta, yaitu sifat dari satu gejala, peristiwa, dan benda yang wujud atau bentuknya dapat ditangkap oleh pancaindra. Misalnya, “Baitullah terletak di kota Mekkah”, itu merupakan fakta karena memang kenyataannya demikian. Demikian juga “seorang Muslim yang berwudhu dengan menggunakan air”, hal ini merupakan suatu fakta yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Fakta merupakan materi pembelajaran yang teramat sederhana karena materi pembelajaran ini bersifat mengikat hal-hal yang spesifik. b. Konsep, yaitu abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat. Suatu konsep memiliki bagian yang dinamakan atribut. Atribut sendiri merupakan karakteristik yang dimiliki suatu konsep. Misalnya, puasa merupakan suatu konsep yang memiliki atribut tertentu yang berbeda dengan atribut yang dimiliki oleh konsep “zakat”. Pemahaman tentang suatu konsep harus didahului dengan pemahaman tentang data dan fakta sebab atribut sendiri pada dasarnya merupakan sejumlah fakta yang terkandung dalam konsep. c. Prosedur merupakan materi pembelajaran yang berhubungan dengan kemampuan peserta didik untuk menjelaskan langkah-langkah secara sistematis tentang sesuatu. Misalnya, prosedur tentang langkah-langkah melakukan tayammum, melakukan wudhu, langkah-langkah memandikan jenazah, dan lain sebagainya. d. Prinsip, yaitu hubungan antara dua atau lebih konsep yang sudah teruji secara empiris sehingga dapat digeneralisasikan. Misalnya, prinsip tentang ibadah maghdhah yang merupakan gabungan-gabungan dari konsep shalat, zakat, puasa, dan haji. Materi pembelajaran tentang prinsip akan lebih sulit jika dibandingkan dengan fakta atau konsep karena seseorang akan dapat menarik suatu prinsip apabila sudah memahami berbagai fakta dan konsep yang relevan. Sementara menurut Hilda Taba materi pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi empat tingkatan, antara lain sebagai berikut. a. Fakta khusus, merupakan bentuk materi pembelajaran yang sangat sederhana. Biasanya fakta khusus ini merupakan suatu informasi yang tingkat kegunaannya paling rendah. Misalnya, rukun Islam ada lima, jumlah rakaat shalat jum’at adalah dua rakaat, puasa adalah ibadah dalam bentuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. b. Ide-ide pokok yang berupa prinsip atau generalisasi. Memahami ide pokok dalam materi pembelajaran menjadikan guru dapat menjelaskan sejumlah gejala spesifik atau sejumlah materi pembelajaran. c. Konsep. Menurut Hilda Taba memahami konsep berarti memahami sesuatu yang abstrak sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk berpikir lebih radiks. Konsep dapat muncul dalam berbagai konteks sehingga pemahaman tentang konsep akan terkait dalam berbagai situasi. Misalnya, konsep tentang kebersihan, toleransi, kerukunan antar-umat beragama, kejujuran, dan sebagainya. d. Sistem berpikir. Sistem berpikir ini berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah secara empiris, sistematis, dan terkontrol yang kemudian dinamakan dengan istilah berpikir ilmiah. Setiap disiplin ilmu memiliki sistem berpikir yang tidak sama begitu juga dengan sistem berpikir pada suatu materi pembelajaran, tentu tidak sama. Oleh karena itu, suatu materi pembelajaran harus disesuaikan dengan disiplin ilmunya karena materi pembelajaran erat kaitannya dengan struktur keilmuan. Dari kedua pengklasifikasian materi pembelajaran di atas, pada dasarnya materi pembelajaran diklasifikasikan ke dalam enam tingkatan, antara lain: a. Konsep. b. Fakta. c. Prosedur d. Prinsip. e. Nilai. f. Keterampilan. C. Sumber Materi Pembelajaran Dalam pembelajaran konvensional, sering guru menentukan buku teks sebagai satu-satunya sumber materi pelajaran. Bahkan, pembelajaran yang berorientasi kepada kurikulum subjek akademis, buku teks yang telah disusun oleh para pengembang kurikulum merupakan sumber utama. Dengan demikian, perubahan atau penyempurnaan kurikulum, pada dasarnya adalah penyempurnaan dan perubahan buku ajar. Akibatnya, ketika terjadi perubahan kurikulum, maka selalu diikuti oleh perubahan buku pelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sumber diartikan sebagai tempat keluar dan asal sesuatu. Jadi, sumber materi pembelajaran dapatlah diartikan sebagai asal bahan yang dipikirkan, dibicarakan, dibahas, dan diujikan dalam kegiatan belajar peserta didik. Dalam implementasi kurikulum 2006, sumber materi pembelajaran sebagian besar berasal dari buku teks yang memuat materi bahasan sehingga sifat pembelajaran lebih berorientasi pada buku teks. Sementara dalam implementasi kurikulum 2013 sifat pembelajaran haruslah kontekstual dan buku teks tidaklah dijadikan sebagai satu-satunya sumber materi pembelajaran. Sumber materi pelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Tempat atau lingkungan Lingkungan merupakan sumber pelajaran yang sangat kaya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Ada dua bentuk lingkungan belajar, yakni, pertama lingkungan atau tempat yang sengaja di desain untuk belajar siswa seperti laboratorium, perpustakaan, ruang internet, dan lain sebagainya. Lingkungan semacam ini dikenal dengan lingkungan by disign, karena tempat semacam ini dirancang untuk proses pembelajaran. Kedua, lingkungan yang tidak di desain untuk proses pembelajaran akan tetapi keberadaannya dapat dimanfaatkan, misalnya halaman sekolah, taman sekolah, kantin, kamar mandi, dan lain sebagainya. Lingkungan yang demikian dikenal dengan lingkungan yang bersifat by utilization. Kedua bentuk lingkungan ini dapat dimanfaatkan oleh setiap guru karena memang selain memiliki informasi yang sangat kaya untuk mempelajari materi pelajaran, juga dapat secara langsung dijadikan tempat belajar siswa. b. Orang atau narasumber Pengetahuan itu tidak statis, akan tetapi bersifat dinamis, yang terus berkembang sangat cepat. Oleh karena perkembangan yang cepat itu, kadang-kadang apa yang disajikan dalam buku teks tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir. Misalnya peraturan dan undanf-undang baru mengenai sesuatu, penemuan-penemuan baru dalam berbagai ilmu pengetahuan mutakhir, seperti munculnya berbagai jenis penyakit misalnya flu burung, sapi gila, dan lain sebagainya serta berbagai jenis rekayasa genetik; munculnya berbagai fenomena alam serta pengaruhnya terhadap gejala-gejala sosial dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu tidak mungkin dipahami oleh guru, maka untuk mempelajari konsep-konsep baru semacam itu, guru dapat menggunakan orang-orang yang lebih menguasai persoalan misalnya dengan mengundang dokter, polisi dan lain sebagainya sebagai sumber bahan pelajaran. c. Objek Objek atau benda yang sebenarnya merupakan sumber informasi yang akan membawa siswa pada pemahaman yang lebih sempurna tentang sesuatu. Mempelajari bahan pelajaran dari benda yang sebenarnya bukan hanya dapat menghindari kesalahan persepsi tentang isi pelajaran, akan tetapi juga dapat membuat pelajaran lebih akurat disamping motivasi belajar siswa akan lebih baik. d. Bahan cetak dan noncetak Bahan cetak (printed material) adalah berbagai informasi sebagai materi pelajaran yang disimpan dalam berbagai bentuk tercetak seperti buku, koran, majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan bahan noncetak adalah informasi sebagai materi pelajaran, yang disimpan dalam berbagai bentuk alat komunikasi eletronik yang biasanya berfungsi sebagai media pembelajaran misalnya dalam bentuk kaset, video, komputer, CD, dan lain sebagainya. D. Pengorganisasian materi pembelajaran Setelah guru sebagai seorang desainer pembelajaran dapat memahamai tentang pengertian materi pembelajaran, mengelompokkan materi pembelajaran dan menemukan berbagai sumber materi pembelajaran, langkah selanjutnya dalam merancang materi pembelajaran adalah guru mengorganisasikan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Pengorganisasian materi tersebut merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Kegiatan pengorganisasian materi pembelajaran ini terdiri dari dua langkah, yaitu memilih materi pembelajaran dan menyusun materi pembelajaran. Keduanya dijelaskan berikut ini. a. Memilih materi pembelajaran Pemilihan materi pembelajaran bukanlah hal yang mudah, kadang guru merasa kesulitan saat memilih materi pembelajaran yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam berbagai kompetensi. Kesulitan-kesulitan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini: 1. Terlalu banyaknya atau terlalu sedikitnya sumber materi pembelajaran yang tersedia. 2. Perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang teramat cepat sehingga materi pembelajaran dapat berubah setiap saat. 3. Perubahan standardisasi sistem evaluasi atau standar penilaian pendidikan. Kemudian, Suwardi mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat langkah yang harus diperhatikan dan dijadikan bahan pertimbangan oleh guru dalam memilih materi pembelajarannya, antara lain sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi serta menentukan pokok bahasan yang relevan dengan kompetensi yang hendak dicapai. Misalnya Kompetensi Dasar pada mata pelajaran PAI di SD Kelas IV adalah “memiliki sikap beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt. yang tecermin dari perilaku kehidupan sehari-hari” maka pokok bahasan yang relevan adalah “beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt. 2. Setelah menentukan pokok bahasan dalam materi pembelajarannya, kemudian guru memerinci pokok bahasan tersebut menjadi sub pokok bahasan. Misalnya pokok bahasan “beriman keapada malaikat-malaikat Allah Swt”, subpokok bahasannya seperti pengertian malaikat, jumlah malaikat, tugas-tugas malaikat, hikmah beriman kepada malaikat dan contoh perilaku yang mencerminkan beriman kepada malaikat. 3. Kemudia guru mencari berbagai sumber materi pembelajaran untuk mendapatkan materi yang relevan dan kontekstual dengan masing-masing subpoko bahasan. 4. Langkah terakhir adalah guru mengidentifikasi dan menentukan materi pembelajaran yang benar-benar relevan dengan masing-masing subpokok bahasan yang hendak disampaikan dalam proses pembelajaran. b. Menyusun materi pembelajaran Langkah selanjutnya setelah guru memilih materi pembelajaran yang diajarkan berdasarkan kompetensi yang hendak dicapainya adalah guru menyusun materi pembelajaran tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan dengan sistematika yang logis. Dalam penyusunannya guru hendaknya memerhatikan tiga hal sebagai berikut. 1. Materi pembelajaran hendaknya disusun dari materi pembelajaran yang sederhana ke materi pembelajaran yang kompleks. 2. Materi pembelajaran disusun dari materi pembelajaran yang dianggap mudah hingga ke materi pembelajaran yang dianggap sukar. 3. Dalam menyusun materi, sebaiknya guru mengawalinya dengan materi pembelajaran yang termasuk konsep. E. Pengemasan materi pembelajaran 1. Prinsip pengemasan Materi pembelajaran pada hakikatnya adalah pesan-pesan yang ingin kita sampaikan pada anak didik untuk dikuasai. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan baik berupa ide, data/fakta, konsep dan lain sebagainya, yang dapat berupa kalimat, tulisan, gambar, peta, ataupun tanda. Pesan yang disampaikan melalui bahasa verbal atau nonverbal. Pesan yang disampaikan perlu dipahami oleh siswa, sebab manakala tidak dipahami maka pesan tidak akan menjadi informasi yang bermakna. Adakalanya suatu pesan tidak diterima oleh penerima pesan (siswa) atau tidak sesuai dengan maksud pengirim pesan (guru). Hal ini perlu diwaspadai oleh sebab salah pengertian dalam menerima pesan bisa berakibat kesalahan dalam menanamkan informasi. Agar pesan yang ingin disampaikan bermakna sebagai bahan pelajaran, maka ada sejumlah kriteria yang harus diperhatikan di antaranya adalah sebagai berikut: a. Novelty, artinya suatu pesan akan bermakna apabila bersifat baru atau mutakhir. Pesan yang usang atau yang sebenarnya telah diketahui oleh siswa, maka akan memengaruhi tingkat motivasi dan perhatian siswa dalam mempelajari bahan pelajaran. b. Proximity, artinya pesan yang disampaikan harus sesuai dengan pengalaman siswa. Pesan yang disajikan jauh dari pengalaman siswa cenderung akan kurang di perhatikan. c. Conflict, artinya pesan yang disajikan sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga menggugah emosi. Memang hal ini tidaklah mudah sebab tidak semua materi pelajaran bisa dikemas seperti itu. Akan tetapi, seorang perencana yang baik mestinya berusaha ke arah itu. Materi pelajaran yang mampu membawa emosi audience seperti siswa cenderung akan diperhatikan. d. Humor, artinya pesan yang disampaikan sebaiknya dikemas sehingga menampilkan kesan lucu. Pesan yang dikemas dengan lucu cenderung akan lebih menarik perhatian. Pengemasan materi dan pesan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara yakni pengemasan secara visual dan pengemasan dalam bentu cetakan. Dalam bentuk apa pun pengemasan pesan dan bahan pelajaran harus memerhatikan kriteria di atas. Beberapa pertimbangan teknis dalam mengemas isi atau materi pembelajaran menjadi bahan belajar diantaranya adalah: a. Kesesuaian dengan tujuan yang harus dicapai Kesesuaian antara pengemasan bahan pelajaran dengan tujuan yang harus dicapai, seperti yang dirumuskan dalam kurikulum secara teknis harus menjadi pertimbangan pertama, sebab dalam pendekatan sistem tujuan adalah komponen utama dalam proses pembelajaran. Artinya apa pun yang direncanakan termasuk pengemasan materi pelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. b. Kesederhanaan Bahan pelajaran dikemas dengan tujuan untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian, kesederhanaan pengemasan merupakan salah satu pertimbangan yang harus diperhatikan. c. Unsur-unsur desain pesan Dalam setiap kemasan sebaiknya terdapat unsur gambar dan caption. Pengemasan materi yang hanya terdiri atas gambar atau caption saja akan mengurangi makna dan penyajian informasi. Agar mudah dipahami, maka penyajian pesan dan informasi harus menyertakan unsur gambar dan caption. d. Pengorganisasian bahan Bahan pelajaran sebaiknya disusun dalam bagian-bagian menuju keseluruhan. Bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami manakala disusun dalam bentuk unit-unit terkecil atau dalam bentuk pokok-pokok bahasan yang dikemas secara induktif e. Petunjuk cara penggunaan Dalam bentuk apa pun pengemasan materi harus disusun petunjuk cara penggunaannya. Hal ini sangat penting, apalagi seandainya bahan ajar dikemas untuk pembelajaran mandiri seperti modul, pengajaran berprogram atau mungkin CD interaktif dan pembelajaran melalui kaset. 2. Bentuk-bentuk pengemasan Materi pelajaran yakni, berbagai informasi yang harus dipahami siswa dapat dikemas dalam berbagai bentuk. Di bawah ini disajikan beberapa bentuk pengemasan materi pelajaran. a. Materi pelajaran terprogram Materi pelajaran terprogram adalah salah satu bentuk penyajian materi pembelajaran individual, sehingga materi pelajaran dikemas untuk dapat dipelajari secara mandiri. Terdapat beberapa ciri dari materi pelajaran terprogram ini. 1. Materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit atau bagian terkecil 2. Menuntut aktivitas siswa 3. Mengetahui dengan segera setiap selesai mempelajari materi pelajaran. Materi terprogram bisa dikemas dalam bentuk tercetak (printed material), yang kemudian dikenal dengan pengajaran terprogram (program teaching) atau bisa dalam bentuk nontercetak seperti dalam bentuk video dan komputer. b. Pengemasan materi pelajaran melalui modul Seperti halnya materi pelajaran terprogram, pengemasan materi pelajaran modul merupakan bentuk pengemasan materi pelajaran individual. Modul adalah salah satu kesatuan program yang lengkap, sehingga dapat dipelajari oleh siswa secara individual. Dalam sebuah modul minimal berisi tentang: a. Tujuan yang harus dicapai, yang biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang spesifik sehingga keberhasilannya dapat diukur. b. petunjuk penggunaan, yakni petunjuk bagaimana seharusnya siswa mempelajari modul. c. Kegiatan belajar, berisi tentang materi yang harus dipelajari oleh siswa. d. Rangkuman materi, yakni garis-garis beras materi pelajaran. e. Tugas dan latihan. f. Sumber bacaan, yakni buku-buku bacaan yang harus dipelajari untuk memperdalam dan memperkaya wawasan. g. Item-item tes, yakni soal-soal yang harus dijawab untuk melihat keberhasilan siswa dalam penguasaan materi pelajaran. h. Kriteria keberhasilan, yakni rambu-rambu keberhasilan siswa dalam mempelajari modul. i. Kuci jawaban. c. Pengemasan materi pelajaran kompilasi Kompilasi adalah bahan belajar yang disusun dengan mengambil bagian-bagian yang di anggap perlu dari berbagai sumber belajar dan menggabungkan menjadi satu kesatuan untuk dipelajari siswa. Sumber belajar yang menjadi bahan kompilasi biasanya berasal dari buku-buku teks, yang dianggap langka sehingga sulit didapatkan oleh para siswa. Agar materi pelajaran dapat disajikan secara sistematis, maka penyusunannya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. Tentukan tujuan yang harus dicapai oleh pengemasan materi pelajaran melalui sistem kompilasi. b. Kemukakan secara ringkas tentang bahan-bahan yang dikompilasikan. c. Jelaskan petunjuk-petunjuk dalam mempelajari bahan kompilasi. d. Buatlah alat tes untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mempelajari kompilasi. e. Antara satu bahan yang diambil dari satu sumber dan sumber lainnya, diberi penyekat. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kata materi ini sering kali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diungkapkan bahwa materi diartikan ke dalam dua hal, antara lain sebagai berikut: (a) materi diartikan sebagai benda atau bahan atau segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata dan dapat disentuh; (b) materi diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bahan untuk dipikirkan, dibicarakan, dikarang, dan diuji. Pada dasarnya materi pembelajaran diklasifikasikan ke dalam enam tingkatan, antara lain: a. Konsep. b. Fakta. c. Prosedur d. Prinsip. e. Nilai. f. Keterampilan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sumber diartikan sebagai tempat keluar dan asal sesuatu. Jadi, sumber materi pembelajaran dapatlah diartikan sebagai asal bahan yang dipikirkan, dibicarakan, dibahas, dan diujikan dalam kegiatan belajar peserta didik. Langkah selanjutnya dalam merancang materi pembelajaran adalah guru mengorganisasikan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Materi pembelajaran pada hakikatnya adalah pesan-pesan yang ingin kita sampaikan pada anak didik untuk dikuasai. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan baik berupa ide, data/fakta, konsep dan lain sebagainya, yang dapat berupa kalimat, tulisan, gambar, peta, ataupun tanda. Materi pelajaran yakni, berbagai informasi yang harus dipahami siswa dapat dikemas dalam berbagai bentuk. B. Saran Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, diantaranya adalah kurangnya referensi yang relevan dan pembahasan yang kurang mendetail. Untuk itu, penulis menyarankan bagi pembaca untuk memahami adanya kekurangan tersebut. Lampiran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah/Madrasah : MAN 1 PAMEKASAN Mata pelajaran : FIKIH XII (WAJIB) Kelas/Semester : XII/ 1 Standar Kompetensi : Mengetahui Islam Tentang Pemerintahan (khilafah) Kompetensi Dasar : Menjelaskan tentang Pemerintahan khilafah Alokasi Waktu : 2 X 45 menit (1 pertemuan) Tujuan Pembelajaran : • Siswa dapat memiliki perilaku jujur, disiplin dan tanggungjawab sebagai implementasi dari dari pemahaman tentang khilafah Karakter Siswa yang diharapkan : • Jujur • Disiplin • Tanggung jawab • Dapat dipercaya • Berani • Peduli • Mempunyai jiwa kepemimpinan Materi Pembelajaran : • Ketentuan Islam tentang pemerintahan khilafah Metode Pembelajaran : • Ceramah • Tanya jawab • CTL Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran : Kegiatan Pendahuluan • Guru mengucapkan salam serta mengajak semua siswa untuk memulai pembelajaran dengan do’a bersama • Guru memeriksa kehadiran siswa • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan langkah-langkah • Guru menyampaikan sistem, kriteria dan aspek penilaian Kegiatan Inti 1. Mengamati • Mengamati gambar atau video tentang foto dan film sesuai materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Mengamati berbagai kejadian yang berkaitan dengan materi ketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Mendengar, melihat, dan menyimpulkan berbagai kejadian yang berkaitan dengan materi ketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) 2. Menanya • Memotivasi peserta didik untuk menyusun pertanyaan baik lisan maupun tulisan tentang hal/ peristiwa yang berhubungan denganmateri ketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Merangsang peserta didik untuk menyusun pertanyaan baik lisan maupun tulisan tentang hal/ peristiwa dengan menyaksikan/ mengamati tayangan video, gambar dan keadaan sekitar yang berhubungan denganmateri ketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) 3. Mengumpulkan informasi/mencoba/ mengeksplorasi • Menggali informasi dengan membaca teks, menyimak keterangan terkait materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Mengumpulkan data tentang terkait materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah)dengan melakukan diskusi kelompok • Menemukan latar belakang, pola, pengaruh pemikiran tentang materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) 4. Menalar/mengasosiasi • Melakukan analisis materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Membandingkan konsep, teori dan temuan ilmiah • Menghubungkan teori dengan keadaan senyatanya dalam kehidupan (kontekstual) terhadap materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Menyimpulkan materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) 5. Mengomunikasikan • Mempresentasikan berbagai hal yang berkaitan dengan materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) berdasarkan hasil temuannya di lapangan • Menyampaikan hasil temuan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan materiketentuan Islam tentang pemerintahan (khilafah) • Meminta guru dan teman sekelas untuk menyikapi, menilai dan membandingkan hasil kerja Kegiatan Penutup • Guru memberikan penguatan materi • Guru menyampaikan tugas yang dibawa pulang oleh peserta didik • Guru bersama-sama pesert didik membaca doa penutup majlis dan salam Sumber Belajar : • Media/alat (LCD Projector) • Sumber Belajar (Buku Guru Fikih MA XII wajib) Penilaian : Indikator Pencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Instrumen Soal • Meyakini pentingnya menentukan pemimpin • Bersikap jujur dalam memilih pemimpin • Menjelaskan pengertian pemerintahan khilafah dalam Islam • Melakukan simulasi pemilihan pemimpin menurut ketentuan Islam Penugasan Tugas rumah • Menjelaskan tentang pemerintahan masa khilafah • Sebutkan dalil-dalil sebagai dasar pemerintahan khilafah dalam Islam • Bagaimana pola penunjukan pemimpin Islam Pamekasan, 6 oktober 2017 Mengetahui Kepala Sekolah Guru Mapel Fikih Drs. H. Mohammad Syarif Moh. Hasan, S.Ag NIP. 196608152003121002 NIP. 196608152003121002

Saturday, 13 October 2018

Media Pembelajaran

BAB I MEDIA PEMBELAJARAN A. Pengertian Media Pembelajaran Media secara bahasa adalah perantara atau pengantar sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan pebelajar melakaukan kegiatan belajar. Menurut islilah media pembelajaran adalah segala sesuatu atau alat yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik atau pebelajar. Melihat dari pengetian diatas maka dapat disimpulkan beberapa manfaat dari media pembelajaran, yaitu: 1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan 2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas,menarik dan lebih interaktif 3. Proses pembelajaran menjadi efisien waktu dan tenaga. 4. Meningkatkn kualitas hasil belajar peerta didik 5. Memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja 6. Menumbuhkan sikap positif pebelajar terhadap materi 7. Mengubah peran guru lebih positif dan produktif B. Sumber Belajar Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Dalam pradigma pendidikan konvensional guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar, namun sekarang dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasilitas belajar agar pebelajar mau belajar (fasilitator) C. Jenis-Jenis Sumber Belajar Ada 6 jenis sumber belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, di antaranya: 1. Pesan (Message) 2. Orang (People) 3. Bahan (Matterials) 4. Alatn (Device) 5. Teknik 6. Latar (Setting) BAB II PEMBAGIAN MEDIA PEMBELAJARAN Banyak cara diungkapakan untuk mengidentifikasi media serta mengklarifikasikan karakteristik fisik,sifat,kompleksitas, ataupun klasifikasi menurut kontrol pada pemakai. Namun demikan secara umum media bercirikan tiga unsure pokok, yaitu suara,visual dan gerak A. Media Visual Media visual dalam pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk belajar mengajar yang dapat dinikmati dengan penglihatan. Media ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu 1. Media visual yang diproyeksikan 2. Media visual yang tidak diproyeksikan. B. Media Audio Media visual dalam pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk belajar mengajar yang dapat dinikmati dengan pendengaran. Secara fisik jenis media yang tergolong sebagai audio visual adalah kaset audio dan disk audio. Berapa contoh yang termasuk media audio adalah Radio dan alat perekam pita magnetik, jenis media ini berfungsi sebagai: 1. Pemusatan perhatian dan mempertahankan pemusatan perhatian 2. Melatih berbahasa 3. Melatih daya analisis pebelajar dari apa yang mereka dengar 4. Belajar jarak jauh C. Media Audio visual Dari segi nama dapat di simpukan bahwa media ini merupakan media gabungan antara visual dan audio yang berarti media ini dapat dinikmati dengan cara di dengar dan di lihat. Berikut beberapa contoh dari media audio visual: a. Film atau disebut juiga gambar hidup b. Telivisi c. Video Cassette Recorder d. Multimedia e. Komputer Jenis-jenis media dikelompokkan sebagai berikut. No Jenis Media Media intruksional 1 Audio • Pita audio (rol atau kaset) • Piringan audio • Radio (rekaman suara) 2 Cetak • Buku teks terprogram • Buku pegangan • Buku tugas 3 Audio-Cetak • Buku latihan dilengkapi kaset • Gambar/poster (dilengkapi audio) 4 Proyek visual diam • Film bingkai (slide) • Film rangkai (berisi pesan verbal) 5 Proyek visual diam dengan audio • Film bingkai (slide) suara • Film rangkai suara 6 visual gerak • Film bisu dengan judul (caption) 7 visual gerak dengan audio • Film suara • Video/VCD/DVD 8 Benda • Benda nyata • Model tiruan 9 Komputer • CAI (Computer Assisted Instructional) • CMI (Computer Managed Instructional) BAB III PENGEMBANGAN, PERAN DAN PEMILIHAN MEIDA PEMBELAJARAN A. Prinsip Umum Pengembangan Dalam pengembangan pembelajaran diperlukan adanya beberapa konsep serta prisip-prnsip agar pembelajaran bisa di pahami dan di mengerti oleh pebelajar dalam proses pembelajaran, berikut beberapa pengembangan yang harus ada dalam media pembelajaran: 1. Kesederhanaan 2. Kesatuan 3. Penekanan 4. Keseimbangan B. Pembuatan Transparansi Dalam membuat transparansi banyak cara yang digunakan mulai dari yang sederhana sampai dengan cara yang rumit. Berikut beberapa cara pembuatan transparansi. 1. Langsung pada Transparansi (acatet), bahan dasarnya berupa transparan plastik tipis yang disebut acatet. 2. Transparansi dengan Reproduksi yaitu memperbanyak ganbar atau tulisan yang persis sama dengan menggunakan mesin foto copy dan termofax. C. Peranan Media Pembelajaran Kedudukan media dalam pembekajaran sangat penting, bahkan sejajar dengan metode pembelajaran, karena metode yang digunakan dalam proses pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat diintegrasikan dan diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi. Berikut ini gambaran mengenai posisi media dalam suatu prose belajar mengajar. Terjadinya pengalaman belajar yang bermakna tidak terlepas dari peran media, secara umum media mempunyai peranan sebagai berikut: a. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran padasaat guru menyampaikan pelajaran. b. Alat untuk menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut oleh pebelajar dalam proses belajarnya. c. Sumber belajar bagi pebelajar. D. Pemilihan Media Minimal ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam memilih media yang pas untuk pengajaran, yaitu: 1. Memahami karakteristik setiap media 2. Sesuai dengantujuan yang hendak dicapai 3. Sesuai dengan meted pengajaran yang kita gunakan 4. Sesuai dengan materi yang kita komunikasikan 5. Sesuai dengan keadaan pebelajar 6. Sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan BAB IV PENGGUNAAN MEDIA BELAJAR A. Langkah-Langkah Penggunaan Media Pemilihan media sangatlah perlu agar dapat menentukan media yang terbaik,tepat, dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begiitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan klemahan masing-masing. Penggunaan media harus dapat memperlakukan pebelajar secara aktif. Lebih baik menggunakan media yang sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh pebelajar daripada media canggih namun justru membuat pebelajar kita terheran-heran pasif. Ada enam langkah yang bisa kita tempuh pada waktu mengajar dengan mempergunakan media. Langkah-langkah tersebut disebutkan sebagai berikut: 1. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan media. 2. Persiapan guru 3. Persiapan kelas 4. Langkah penyajian materi ajar dan pemanfaatan media. 5. Langkah kegiatan belajar pebelajar 6. Lengkah evaluasi pebelajar. BAB V MEDIA PEMBELAJARAN DALAM ONLINE LEARNING DAN DISTANCE LEARNING A. Pengertia Online Learning Media pembelajaran dalam bentuk online learning sering disebut juga dengan electronic learning atau e-learning. Electronic Leaarning merupakan pembelajaran yang disajikan dengan menggunakan media computer dan media lain yang tetap berbasis computer. Ada 3 fungsi pembelajaran elektronik (e-learning) terhadap kegiatan belajar mengajar: 1. Suplemen bagi pebelajar atau pelengkap dalam menambah materi atau memahami materi bagi pebelejar. 2. Komplemen (pelengkap materi atau remedial bagi peserta didiik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional 3. Substitusi (pengganti ) Adapun kelebihan dari media e-learning dengan menggunakan jaringan internet adalah: a. Informasi yang disajikan real time b. Interaksi antara pendidik dengan peserta didik terjadi secara langsung walau tanpa tatap muka. c. Terdapat forum online antar pelajar d. Dapat diakses kapan saja dan dimana saja e. Penyampaian pengumuman,administrasi, jadwal dan pengumpulan tugas dapat dilakukan secara online. B. Pembelajara Distance Learning Distance Leraning merupakan metode pembelajaran jarak jauh antara pengajar dengan pelajar untuk memberikan kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh kendala waktu,ruang dan tempat, serta keterbatasan sitem pendidikan tradisional. Dengan adanya distance learning siswa dapat belajar di rumah, mengerjakan soal-soal latihan seperti yang tejadi pada metode pembelajara tradisional. Interaksi antara pengajar dan pelajar masih tetap berlangsung dengan media yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi.

Friday, 12 October 2018

ORGANISASI DAN MODEL-MODEL KURIKULUM

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt., karena atas rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Perkembangan Kurikulum P.A.I ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Tak lupa pula, shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad saw., keluarga, dan seluruh sahabatnya. Makalah Perkembangan Kurikulum P.A.I yang kami susun ini berjudul “Organisasi dan Model-Model Kurikulum”. Makalah ini hadir untuk memenuhi tugas Perkembangan Kurikulum P.A.I. Banyak pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini. Karena itu, kami ucapkan banyak terima kasih. Kami menyadari, bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, olehnya karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian. Besar harapan kami, dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan sumbangsih yang berarti demi kemajuan ilmu pengetahuan bangsa. Pamekasan, 17 Maret 2017 Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 B. Rumusan masalah 1 C. Tujuan 1 BAB II : PEMBAHASAN A. Pengertian organisasi kurikulum 2 B. Bentuk-bentuk organisasi kurikulum 2 C. Model-model pengembangan kurikulum 6 BAB III : PENUTUP A. Kesimpulan 14 B. Saran 16 DAFTAR PUSTAKA 17 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan serta mengatur segala kegiatan yang berlangsung. Kurikulum tercipta dari pemikiran para tokoh sehingga ada masanya kurikulum akan mengalami perkembangan seiring dengan pemikiran para tokoh dan kebutuhan yang mendasarinya. Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. Maka, melalui makalah ini insyaallah penulis akan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan organisasi dan model-model kurikulum. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud organisasi kurikulum? 2. Apa saja bentuk-bentuk organisasi kurikulum? 3. Apa saja model-model pengembangan kurikulum? C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pengertian organisasi kurikulum. 2. Mengetahui bentuk-bentuk organisasi kurikulum. 3. Mengetahui model-model pengembangan kurikulum. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Organisasi Kurikulum Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated). B. Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum Organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran di bedakan atas empat pola, yaitu: 1) Mata Pelajaran Terpisah (Separated Subject Curriculum) Bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan, karena organisasi kurikulum bentuk ini sederhana dan mudah dilaksanakan. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan secara berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali dengan apa yang telah diperoleh dari generasi terdahulu (Nasution, 1986). Secara fungsional bentuk kurikulum ini mempunyai kekurangan dan kelebihan, kekurangan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum), yaitu:  Bahan pelajaran di berikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, tidak menggambarkan adanya hubungan antara materi satu dengan yang lainnya.  Bahan pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari siswa tidak bersifat aktual.  Proses belajar lebih mengutamakan aktifitas guru sedangkan siswa cenderung pasif.  Bahan pelajaran tidak berdasarkan aspek permasalahan sosial yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.  Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan yang akan dating.  Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa. Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum), adalah:  Bahan pelajaran disusun secara sistematis, logis, sederhana, dan mudah dipahami.  Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu.  Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.  Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada. 2) Mata Pelajaran Terhubung (Correlated Curriculum) Pola kurikulum korelasi, yaitu pola organisasi isi kurikulum yang menghubungkan pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, atau satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pola kurikulum jenis ini. Kekurangannya adalah:  Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.  Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang aktual yang langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.  Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa.  Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan terlampau abstrak. Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran terhubung (correlated curriculum) adalah:  Ada keterhubungan antar materi pelajaran walau sebatas beberapa mata pelajaran.  Memberikan wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.  Menambah minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang terkorelasi. 3) Fusi Mata Pelajaran (Broadfield Curriculum) Fusi mata pelajaran (broadfield curriculum) adalah jenis organisasi kurikulum yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan. Contohnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil peleburan dari ilmu fisika, ilmu hayat, ilmu kimia, dan ilmu kesehatan. Tipe organisasi ini pertama kali dikemukakan oleh Phenik. Model organisasi ini memiliki keunggulan diantaranya adalah mata pelajaran akan semakin dirasakan kegunaannya, sehingga memungkinkan pengadaan mata pelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar generalisasi. Adapun kelemahannya adalah hanya memberikan pengetahuan secara sketsa, abstrak, kurang logis dari suatu mata pelajaran. (Soetopo dan Soemanto dalam Idi 1999: 29-30) 4) Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum) Kurikulum ini memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan, sehingga batas-batas antar mata pelajaran dapat ditiadakan. Pembelajaran yang mungkin digunakan diantaranya pemecahan masalah, metode proyek, pengajaran unit (unit teaching), inkuiri, diskoveri (discovery), dan pendekatan tematik yang dilakukan dalam pembelajaran kelompok maupun perorangan. Kekurangan organisasi kurikulum ini, antara lain:  Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum seperti ini.  Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.  Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana.  Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara mencolok.  Kemungkinan akan memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Kelebihan organisasi kurikulum ini, antara lain:  Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara memadukan beberapa mata pelajaran secara menyeluruh dalam menyelesaikan suatu topic atau permasalahan.  Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya secara individu.  Mempraktikkan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.  Dapat membantu meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat.  Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain. Beberapa bentuk organisasi kurikulum dalam kategori ini diantaranya adalah sebagai berikut: a) Kurikulum Inti (Core Curriculum) Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah: 1) Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue), selalu berkaitan, dan direncanakan secara terus menerus; 2) Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan; 3) Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara aktual; 4) Isi kurikulum mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun social; 5) Isi kurikulum ini difokuskan untuk semua siswa. Topik-topik yang diangkat dalam kurikulum ini selalu berkaitan dengan beberapa disiplin ilmu dan lingkungan. Misalnya: penanggulangan penyebaran virus flu burung (Avian Influenza/ AI). b) Social Functions dan Persistent Situations Kurikulum ini didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat diantaranya: 1) memelihara dan menjaga keamanan masyarakat; 2) perlindungan dan pelestarian hidup, kekayaan, dan sumber alam; 3) komunikasi dan transportasi; 4) kegiatan rekreasi, dll. c) Experience atau Activity Curriculum Kurikulum ini cenderung mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegrasi dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa. Ada empat tipe pembelajaran proyek yang dapat dikembangkan dalam activity curriculum, diantaranya: 1) Construction on creative project. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu. Misalnya menulis gagasan atau surat. 2) Appreciation on enjoyment project. Pembelajaran in bertujuan menikmati pengalaman-pengalaman dalam bentuk apresiasi atau estetis (estetika). Misalnya mendengarkan music. 3) The problem project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat intelektual, tetapi ada substansi keterampilannya (vokasional). 4) The drill or specific project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memperoleh beberapa item atau tingkat keterampilan. C. Model-Model Pengembangan Kurikulum Model adalah pola-pola penting yang berguna sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan. Model dapat ditemukan dalam hampir setiap bentuk kegiatan pendidikan, seperti model pengajaran, model adtninistrasi, model evaluasi, model supervisi dan model lainnya. Menggunakan model pada perkembangan kurikulum dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Banyak sekolah/fakultas mempunyai rancangan untuk satu tahun, mereka telah memikirkan polanya untuk memecahkan masalah pendidikan atau prosedur yang tidak dapat dihindari, walaupun begitu mereka tidak mempunyai lebel kegiataanya sebagai rancangan. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan menyeluruh. Adapun model-model pengembangan kurikulum diantaranya: 1. Model Ralph Tyler Dalam bukunya yang berjudul “Basic Principles Curriculum and Instruction (1949), Tyler mengatakan bahwa “Curriculum development needed to be treated logically and systematically”. Ia berupaya menjelaskan tentang pentingnya pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasi kurikulum dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Lebih lanjut, Tyler mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan suatu kurikulum, perlu menempatkan empat pertanyaan berikut: 1. What educational purposes should the school seek to attain? (objectives). 2. What educational experiences are likely to attain these objectives? (instructional strategic and content). 3. How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences). 4. How can we determine whether these purposes are being attain? (assesment and evaluation). Sesuai dengan judul bukunya, model pengembangan kurikulum Tyler ini lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum, sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dengan demikian, model ini tidak menguraikan pengembangan kurikulum dalam bentuk langkah-langkah konkrit atau tahapan-tahapan secara rinci. Tyler hanya memberikan dasar-dasar pengembangannya saja. Menutut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum, diantaranya: a. Menentukan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan harus menggambarkan perilaku akhir setelah peserta didik mengikuti program pendidikan, sehingga tujuan tersebut harus dirumuskan secara jelas sampai pada rumusan tujuan khusus guna mempermudah pencapaian tujuan tersebut. Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tujuan pendidikan menurut Tyler, yaitu: hakikat peserta didik, kehidupan masyarakat masa kini, dan pandangan para ahli bidang studi. Penentuan tujuan pendidikan dengan berdasarkan masukan dari ketiga aspek tersebut selanjutnya difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat dan filosofis pendidikan serta psikologi belajar. Ada lima faktor yang menjadi arah penentuan tujuan pendidikan, yaitu: pengembangan kemampuan berpikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan pengembangan sikap sosial. b. Menentukan pengalaman belajar Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Ada empat prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa. Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kedua, setiap pengalaman belajar harus memuaskan siswa. Ketiga, setiap rancangan pengalaman siswa belajar sebaiknya melibatkan siswa. Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang berbeda. c. Mengorganisasi pengalaman belajar Ada dua jenis pengorganisasian pengalaman belajar. Pertama, pengorganisasian secara vertical yaitu pengorganisasian yang menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat berbeda. Misalkan, pengorganisasian pengalaman belajar yang menghubungkan antara bidang geografi dikelas lima dan kelas enam. Kedua, pengorganisasian secara horizontal yaitu pengorganisasian yang menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang berbeda dalam tingkat yang sama. Misalkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Menurut Tyler (1950: 55) dalam mengorganisasi pengalaman belajar terdapat tiga prinsip, yaitu kontinuitas, urutan isi, dan integrasi. d. Evaluasi Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi, yaitu: 1) evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. 2) evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Ada dua fungsi evaluasi: Pertama, evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik (fungsi sumatif). Kedua, untuk melihat efektivitas proses pembelajaran (fungsi formatif). 2. Model Hilda Taba Pada beberapa buku karya Hilda Taba, yang paling terkenal dan besar pengaruhya adalah Curriculum Development: Theory and Practice (1962). Dalam buku ini, Hilda Taba mengungkapkan pendekatannya untuk proses pengembangan kurikulum. Dalam pekerjaannya itu, Taba memodifikasi model dasar Tyler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum diberbagai sekolah. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemuasatan perhatian guru. Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Menurut Taba, guru harus penuh aktif dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan gurudan memposisikan guru sebgai inovator dalam pengembang kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba. Model terbalik ini dikembangkan oleh Hilda Taba atas dasar data induktif yang disebut model terbalik, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari Taba: 1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru. Dalam kegiatan ini perlu mempersiapkan perencanaan berdasarkan pada teori-teori yang kuat, eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilkan data empirik dan teruji. a. Mendiagnosis kebutuhan b. Merumuskan tujuan-tujuan khusus c. Memilih isi d. Mengorganisasi isi e. Memilih pengalaman belajar f. Mengorganisasi pengalaman belajar g. Mengevaluasi h. Menguji keseimbangan isi kurikulum 2. Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya. 3. Merevisi dan mensolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba. 4. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum. 5. Implementasi dan diseminasi kurikulum yangtelah teruji. Pada tahap terakhir ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, lokakarya dan lain sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum. 3. Model Oliva Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprehensif dan sistematik. Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Oliva terdiri dari 12 komponen yang harus dikembangkan. Komponen pertama adalah perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat. Komponen kedua adalah analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolahitu berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah. Komponen ketiga dan keempat, berisi tentang tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum yang didasarkan kepada kebutuhan seperti yang tercantum dalamkomponen I dan II. Sedangkan dalam komponen V adalah bagaimana mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum. Komponen VI dan VII mulai menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran telah dirumuskan, maka selanjutnya menetapkan strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan seperti yang pada komponen VIII. Selama itu pula dapat dilakukan studi awal tentang kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan (komponen IX A). Selanjutnya pengembangan kurikulum diteruskan pada komponen X yaitu mengimplementasikan strategi pembelajaran. Setelah strategi diimplementasikan, pengembang kurikulum kembali pada komponen IX yaitu komponen IX B untuk menyempurnakan alat atau teknik penilaian. Teknik penilaian seperti yang telah ditetapkan pada komponen IX A bisa ditambah atau direvisi setelah mendapatkan masukan dari pelaksanaan atau implementasi kurikulum. Dari penetapan alat dan teknik peilaian itu, maka selanjutnya pada komponen XI dan XII dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum. Menurut Oliva, model yang dikembangkan ini dapat digunakan dalam beberapa dimensi. Pertama, untuk menyempurnakan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus, misalkan penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya. Kedua, model ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum. Ketiga, model ini dapat digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran secara khusus. 4. Model Beauchamp Model ini dikembangkan oleh G. A. Beauchamp seorang ahli kurikulum. Menurut Beauchamp (1931), proses pengembangan kurikulum meliputi lima tahap, yaitu: 1) Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan,kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional. 2) Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Ada 4 kategori orang yang sebaiknya dilibatkan, yaitu: a. Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang studi. b. Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih. c. d. Para profesional dalam bidang pendidikan. e. Profesional lain dan tokoh masyarakat. 3) Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta menetapkan evaluasi, juga dalam menentukan desain kurikulum secara keseluruhan. Kegiatan ini terdiri dari lima tahap, yaitu: (a) membentuk tim pengembangan kurikulum; (b) mengadakan penelitian dan penilain terhadap kurikulum yang sedang berlaku; (c) studi penjagaan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru; (d) menentukan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru; (e) penyusunan dan penulisan kurikulum baru. 4) Implementasi kurikulum. Tahap ini yaitu pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh tim pengembang. Dalam pelaksanaan kurikulum dibutuhkan kesiapan guru, siswa, fasilitas, biaya, manajerial, dan kepemimpinan sekolah. 5) Evaluasi kurikulum, meliputi: a. Pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru. b. Desain kurikulumnya. c. Hasil belajar siswa. d. Keseluruhan dari system kurikulum. 5. D.K Wheeler Dalam bukunya yang cukup berpengaruh, Curriculum Process, Wheeler mempunyai argumen tersendiri agar pengembang kurikulum (curiculum developes) dapat menggunakan suatu proses melingkar (a circle process), yang mana setiap elemen saling berhubungan dan saling bergantung. Wheeler berpendapat proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase atau tahap, yakni: 1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bisa merupakan tujuan yang bersifat normatif yang mengandung tujuan filosofis atau tujuan pebelajaran umum yang bersifat praktis. Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang bersifat spesifik dan observable (objective) yakni tujuan yang mudah diukur ketercapaiannya. 2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam lngkah pertama. 3. Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar. 4. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajardengan isi atau materi belajar. 5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan. 6. Model Audrey and Howard Nicholls Dalam bukunya, Developing Curriculum: a Practical Guide, Audery dan Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang tegas mencakup elemen-elemen kurikulum dengan jelas tapi ringkas. Nicholls menitik beratkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. Model pengembangan kurikulum Audery dan Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Audery dan Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Audery dan Nicholls yaitu: 1. Analisis situasi 2. Menentukan tujuan khusus 3. Menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran 4. Menentukan dan mengorganisasi metode 5. Evaluasi. 7. Model Malcolm Skillbeck Menurut Skilbeck, model pengembangan kurikulum yang ia namakan model Dynamic, adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah (School Nased Curriculum Development). Dalam model dinamik yang dikembangkan oleh Skilbeckini, proses kurikulum tidak mengikuti pola urutan (sequence) tertentu. Pengembangan kurikulum dapat dimulai dengan unsur kurikulum apapun dan diproses dalam urutan atau susunan apapun. Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis situasi sampai pada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yangia susun dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah. Menurut Skilbeck langkah-langkah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis situasi 2. Memformulasikan tujuan 3. Menyusun progam 4. Interpretasi dan implementasi 5. Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated). 2. Bentuk-bentuk organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran di bedakan atas empat pola, yaitu: a. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) b. Mata pelajaran terhubung (correlated curriculum) c. Fusi mata pelajaran (broadfield curriculum) d. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), meliputi: 1) kurikulum inti (core curriculum); 2) social functions dan persistent situations; 3) experience atau activity curriculum 3. Model-model pengembangan kurikulum: a) Langkah-langkah pengembangan model Ralph Tyler, yaitu:  Menentukan tujuan pendidikan  Menentukan proses pembelajaran  Menentukan organisasi pengalaman belajar  Menentukan evaluasi pembelajaran b) Langkah-langkah pengembangan model Hilda Taba, yaitu:  Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru.  Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.  Merevisi dan mensolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.  Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.  Implementasi dan diseminasi kurikulum yangtelah teruji. Pada tahap terakhir ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, lokakarya dan lain sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum. c) Langkah-langkah pengembangan model Oliva, yaitu:  (a) Perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat.  (b) Analisis kebutuhan masyarakat  (c) dan (d) Tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum  (e) mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum  (f) dan (g) Menjabarkan kurikulum dalam bentk tujuan umum dan tujuan khusus  (h) menetapkan strategi pembelajaran untuk mencapa tujuan  (i) studi awal tentang kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan  (j) mengimplementasikan strategi pembelajaran  (k) dan (l) Evaluasi terhadap pembelajaran dan kurikulum d) Langkah-langkah pengembangan model Beauchamp, yaitu:  Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum.  Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.  Menetapkan prosedur yang akan ditempuh  Implementasi kurikulum.  Evaluasi kurikulum e) Langkah-langkah pengembangan model Wheeler, yaitu:  Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.  Menentukan pengalaman belajar  Menentukan isi atau materi pembelajaran.  Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar.  Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan f) Langkah-langkah pengembangan model Audery dan Hoeards Nicholls, yaitu:  Analisis situasi  Menentukan tujuan khusus  Menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran  Menentukan dan mengorganisasi metode  Evaluasi g) Langkah-langkah pengembangan model Malcom Skillbeck, yaitu:  Menganalisis situasi  Memformulasikan tujuan  Menyusun progam  Interpretasi dan implementasi  Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi. B. Saran 1. Meskipun makalah yang telah kami rampung dan siap disajikan sudah terselesaikan, namun makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan banyak terdapat kesalahan. Dari itu kami penyusun mengharap kritik dan saran dari pembaca. 2. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat kepada pembaca serta memberi motivasi dan pemikiran yang bernilai positif, Amiin.

Monday, 8 October 2018

Makalah Tentang Hadits

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia berbudaya.Budaya dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir,bertingkah laku sampai produk-produk berpikir manusia yang berwujud dalam bentuk benda (materil)maupun dalam bentuk sistem nilai (in- materil). Pergaulan antar umat di dunia yang semakin intensif harus di dasari oleh dasar hokum agama, dan kemaslahatan umat bernegara tanpa melanggar syari’at agama islam akan melahirkan prinsip kemanusiaan yang sangat tentram, penerimaan perbedaan pandangan dalam keagamaan oleh salah satu pihak haruslah di dasari oleh pendidikan yang positif. Untuk menghindari hal-hal negatif dari suatu perbedaan, diperlukan berbagai upaya untuk mengadakan saringan perbedaan yang dianggap paling tepat untuk diterapkan . Oleh karena , pemahaman terhadap kebudayaan islam menjadi penting bagi seorang pendidik agar pendidik memahami secara persis kebudayaan dan pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat. Hadits merupakan salah satu pedoman kita sebagai umat islam, maka dari itu perlu kiranya umat islam mengetahui hadits yang harus di pakai dan hadits yang tidak boleh di pakai dalam aturan main individu atau masyarakat agar kita tidak sembarang menghakimi maupun menghukumi seseorang. B. RUMUSAN MASALAH Makalah ini membahas sekelumit mengenai manusia, nilai, moral, dan hukum yang mencakup hal-hal berikut; A. Pengertian dan syarat hadits shahih dan hadits hasan B. Pengertian hadits dha’if dan pembagiannya C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui pengertian dan syarat dari hadits shahih dan hadits hasan 2. Untuk mengetahui hadits dha’if dan pembagiannya BAB II PEMBAHASAN Pengertian Hadits 1. Definisi Hadits الْحَدِيْثُ مَا جَاءَ عنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ سَوَاءً كَانَ قَوْلاً أَوْ فِعْلاً أَوْ تَقْرِيْرًا أَوْ صِفَةً Hadis adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, ataupun sifat. Contah-contoh Contoh hadis qouly (perkataan) إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ Sesungguhnya setiap amal itu dengan niat Contoh hadis fi’ly (perbuatan) adalah hadis dari Aisyah ra. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ Nabi saw apabila akan tidur, sedangkan beliau dalam keadaan junub maka beliau berwudlu seperti wudlu untuk shalat Contoh hadis taqriry (persetujuan) adalah hadis dari Ibnu Abbas ra, أَنَّ خَالَتَهُ أَهْدَتْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمْناً وَأَضْبًا وَأَقْطاً فَأَكَلَ مِنَ السَّمْنِ وَ مِنَ الْأَقْطِ وَتَرَكَ الْأَضْبَ تَقَذُّرًا وَأُكِلَ عَ لَى مَائِدَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ وَلَوْ كَانَ حَرَاماً مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Bahwa bibinya memberi hadiah kepada Rasulullah saw berupa mentega, daging biawak dan keju, lalu beliau memakan mentega dan keju dengan meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, tetapi daging itu dimakan di meja makan rasulullah saw, seandainya haram maka tak akan dimakan di meja Rasulullah saw Contoh hadis sifat, yaitu hadis yang memuat sifat pribadi nabi saw, adalah hadis dari Anas ra; كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ حَسَنُ الْجِسْمِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلاَ سَبْطٍ أَسْمَرُ اللَّوْنِ إِذَا مَشَى يَتَكَفَّأُ Rasulullah itu tingginya sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, tubuhnya bagus, rambutnya tidak keriting dan tidak lurus, warnanya coklat, apabila berjalan rambutnya bergoyang. 2. Definisi Hadis Shahih هُوَ الْمُسْنَدُ ٬ الْمُتَّصِلُ إِسْنَادُهُ ٬ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ٬ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ ٬ مِنْ غَي رِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ Hadis sahih adalah hadis yang musnad, bersambung sanadnya, dengan penukilan seorang yang adil dan dlabith dari orang yang adil dan dlabith sampai akhir sanad, tanpa ada keganjilan dan cacat. Untuk memudahkan memahami definisi tersebut, dapat dikatakan, bahwa hadis sahih adalah hadis yang mengandung syarat-syarat berikut; 1. Hadisnya musnad 2. Sanadnya bersambung 3. Para rawi (periwayat)nya adil dan dlabith 4. Tidak ada syadz (keganjilan) 5. Tidak ada ilah (cacat) Penjelasan Definisi o Musnad, maksudnya hadis tersebut dinisbahkan kepada nabi saw dengan disertai sanad. Tentang definisi sanad telah disebutkan di depan. o Sanadnya bersambung, bahwa setiap (periwayat) dalam sanad mendengar hadis itu secara langsung dari gurunya o Para rawinya adil dan dhabith, yaitu setiap periwayat di dalam sanad itu memiliki sifat adil dan dhabith. Apa yang dimaksud dengan adil dan dhabith? o Adil adalah sifat yang membawa seseorang untuk memegang teguh taqwa dan kehormatan diri, serta menjauhi perbuatan buruk, seperti syirik, kefasikan dan bid’ah. o Dlabith (akurasi), adalah kemampuan seorang rawi untuk menghafal hadis dari gurunya, sehingga apabila ia mengajarkan hadis dari gurunya itu, ia akan mengajarkannya dalam bentuk sebagaimana yang telah dia dengar dari gurunya o Tidak ada syadz. Syadz secara bahasa berarti yang tersendiri, secara istilah berarti hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat bertentangan dengan hadis dari periwayat lain yang lebih kuat darinya o Tidak ada illah, Di dalam hadis tidak terdapat cacat tersembunyi yang merusak kesahihan hadis. Tentang hadis mu’allal (cacat) juga akan dibahas dalam bagian tersendiri. Contoh Hadis Sahih Hadis yang diriwayatkan oleh alBukhari di dalam kitab Shahihnya j.4 h.18, kitab aljihad wa assiyar, bab ma ya’udzu min aljubni; حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ ٬ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ ٬ قَا لَ: سَمِعْتُ أَبِي قَال : سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِي اللَّه عَنْهم ٬ قَال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ ٬ وَالْكَسَلِ ٬ وَالْجُبْنِ ٬ وَالْهَرَمِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata; Aku mendengar ayahku berkata; Aku mendengar Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw berdo’a ; Ya Allah,aku memohon kepadaMu perlindungan dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut dan dari kepikunan, dan aku memohon kepadaMu perlindungan dari fitnah (ujian) di masa hidup dan mati, dan memohon kepadaMu perlindungan dari adzab di neraka Hadis tersebut di atas telah memenuhi persyaratan sebagai hadis sahih,karena. 1. Ada sanadnya hingga kepada Rasulullah saw. 2. Ada persambungan sanad dari awal sanad hingga akhirnya. Anas bin Malik adalah seorang shahabat, telah mendengarkan hadis dari nabi saw. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), telah menyatakan menerima hadis dengan cara mendengar dari Anas. Mu’tamir, menyatakan menerima hadis dengan mendengar dari ayahnya. Demikian juga guru alBukhari yang bernama Musaddad, ia menyatakan telah mendengar dari Mu’tamir, dan Bukhari rahimahullah juga menyatakan telah mendengar hadis ini dari gurunya. 3. Terpenuhi keadilan dan kedhabitan dalam para periwayat di dalam sanad, mulai dari shahabat, yaitu Anas bin Malik ra hingga kepada orang yang mengeluarkan hadis, yatu Imam Bukhari a) Anas bin Malik ra, beliau termasuk salah seorang shahabat Nabi saw, dan semua shahabat dinilai adil. b) Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), dia siqah abid (terpercaya lagi ahli ibadah). c) Mu’tamir, dia siqah d) Musaddad bin Masruhad, dia siqah hafid. e) AlBukhari–penulis kitab asShahih, namanya adalah Muhammad bin Isma’il alBukhari, dia dinilai sebagai jabal alhifdzi (gunungnya hafalan), dan amirul mu’minin fil hadis. 4. Hadis ini tidak syadz (bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat) 5. Hadis ini tidak ada illahnya Dengan demikian jelaslah bahwa hadis tersebut telah memenuhi syarat syarat hadis sahih, Karena itulah Imam Bukhari menampilkan hadis ini di dalam kitab as-shahih 3. Definisi hadits hasan مَا اسْتَوْفَى شُرُوْطُ الصِّحَّةِ إِلاَّ أَنَّ أَحَدَ رُوَاتِهِ أَوْ بَعْضَهُمْ دُوْنَ رَاوِي الصَّحِيْحِ فِي الضَّبْطِ بِمَا لاَ يَخْرِجُهُ عَنْ حَيِّزِ اْلإِحْتِجَاجِ بِحَدِيْثِهِ Adalah hadis yang memenuhi syarat sebagai hadis sahih , hanya saja kualitas dhabth (keakuratan) salah seorang atau beberapa orang rawinya berada di bawah kualitas rawi hadis sahih, tetapi hal itu tidak sampai mengeluarkan hadis tersebut dari wilayah kebolehan berhujjah dengannya. Hadis seperti ini disebut hasan lidzatihi Penjelasan Definisi Hadis yang memenuhi syarat sebagai hadis sahih. Dalam hal ini syarat hadis sahih adalah; 1. Adanya sanad sampai kepada Rasulullah saw. 2. Persambungan sanad sampai kepada Rasulullah saw. 3. Tiadanya syadz (keganjilan) 4. Tiadanya illah (cacat tersembunyi) Sedangkan syarat dlabth menjadi titik pembeda antara keduanya. Rawi hadis hasan tingkat dlabthnya berada di bawah kualitas rawi hadis sahih. Periwayat hadis hasan biasanya disebut dengan istilah, shaduq (jujur), laa ba’sa bih (tidak apaapa), siqah yukhthi’ (terpercaya tetapi banyak kesalahan), atau shaduq lau awham (jujur tetapi diragukan) Contoh hadis hasan; Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu alQuththan di dalam Ziyadah ‘ala Sunan Ibni Majah (2744) يَحْيَ بْنُ سَعِيْدٍ ٬ عَنْ عَمْرو بْنِ شُعَيْبٍ ٬ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ ٬ قَا لَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفْرٌ بِامْرِئٍ ادَّعَا نَسَبَ لاَ يَعْرِفُهُ ٬ أَوْ جَحَّدَهُ ٬ وَإِنْ دَق ٬ وَسَنَدُهُ حَسَنٌ Yahya bin Sa’id, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata; Rasulullah saw bersabda; “kafirlah orang yang mengaku aku nasab orang yang tidak diketahuinya, atau menolak nasab (yang sebenarnya), meskipun samar” Hadis ini sanadnya hasan. Di dalam sanad hadis ini terdapat Amr bin Syu’aib bin Muhammad, bin Abdullah bin Amr bin alAsh. alHafidz Ibnu Hajar di dalam kitab atTaqrib (2/72) mengatakan, bahwa ia adalah shaduq. Hadits Dha’if 1. Definisi hadits dha’if مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَاتُ الْقُبُوْلِ بِفَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوْطِهِ Apabila tidak terkumpul sifatsifat (yang menjadikannya dapat) diterima (shahih), karena hilangnya salah satu dari syaratsyarat (hadis sahih) Penjelasan Definisi Tidak terkumpul sifatsifat yang menjadikannya dapat diterima; syarat diterima suatu hadis, sebaimana yang telah dibahas, antara lain; 1. Memiliki sanad hingga kepada Nabi saw 2. Sanadnya bersambung 3. Rawinya ‘adil dan dlabith 4. Tidak mengandung syadz 5. Tidak ada illah Hilangnya salah satu syarat diterimanya hadis; Apabila hilang syarat yang pertama, maka hadis itu tidak bisa dinisbahkan kepada nabi saw, melainkan disandarkan kepada shahabat, tabi’in atau tabi’ tabi’in, sesuai dengan nama yang tercantum di dalam sanad tersebut. Apabila tidak terpenuhi syarat kedua, maka hadis itu dinamakan mursal. Apabila tidak terpenuhi bagian pertama dari syarat yang ketiga, yaitu sifat ‘adil, maka hadis itu termasuk matruk atau maudlu’, dan jika tidak ada syarat ketiga bagian yang kedua yaitu dlabth maka hadis tersebut disebut dla’if, matruk, atau bahkan maudlu’ yang disebabkan oleh kelemahan rawi. Apabila hilang syarat yang keempat, maka hadis itu dinamakan syadz atau matruk Dan apabila tidak memenuhi syarat yang kelima, maka hadis itu dinamakan mu’allal. 2. Pembagian Hadis Dla’if. Hadis dla’if menurut derajat kedla’ifannya dapat dibagi menjadi dua bagian; a. Hadis yang kedla’ifannya ringan, tidak berat, dimana apabila didukung dengan hadis yang setingkat dengannya akan hilang dla’ifnya, dan meningkat menjadi hasan lighairihi. Seperti karena rawinya adalah seorang yang dla’if yang masih ditulis hadisnya, tetapi tidak bisa menjadi argumen apabila hanya diriwayatkannya seorang diri, atau karena di dalam sanadnya terdapat inqitha’(keterputusan) karena mursal, atau tadlis. b. Apabila tingkat kedla’ifannya berat, maka tak ada artinya banyaknya tabi’ (pendukung), yaitu apabila rawinya pendusta atau tertuduh pendusta, matruk karena buruknya hafalan atau karena banyaknya kesalahan, atau majhul ‘ain yang tak diketahui sama sekali identitasnya. Contoh Hadis Dla’if berat, dengan sebab kedla’ifan dalam hal ‘adalah (keadilan) adalah; Hadis yang dikeluarkan oleh alKhathib alBaghdadi di dalam Iqtidla’ alIlmi al‘Amali (69) dengan jalan; عَنْ أَبِي دَاوُدَ النَّخَعِي ٬ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ الْغَطْفَانِي ٬ عَنْ سَلِيْكٍ ٬ قَال : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَ لَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْل : إِذَا عَلِمَ الْعَالِمُ وَلَمْ يَعْمَلْ ٬ كَانَ كَالْمِصْبَاحِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ ٬ وَيَحْرُقُ نَفْسَهُ Dari Abu Dawud anNakha’i,telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Ubaidilah alGhathfani, dari Salik, ia berkata; Aku mendengar Nabi saw bersabda; Apabila seorang berilmu mengetahui tetapi tidak mengamalkan,maka ia seperti lampu yang menyinari orang lain tetapi membakar dirinya sendiri Di dalam sanad ini, nama Abu Dawud anNakha’iy adalah Sulaiman bin Amr. Tentang rijal ini Imam Ahmad berkata, “Dia pernah memalsukan hadis”. Ibnu Ma’in berkata, “Dia orang yang paling dusta”. Murrah berkata, “Dia dikenal telah memalsukan hadis”. AlBukhari berkata, “Dia ditinggalkan hadisnya, Qutaibah dan Ishaq menuduhnya sebagai pendusta”. Dengan demikian hadis tersebut melalui sanad ini adalah maudlu’, karena kedla’ifan periwayatnya dalam hal ‘adalah (keadilannya). Contoh hadis Dla’if berat yang disebabkan oleh kelemahan rawinya dalam dlabth, yaitu hadis yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Hilyatu alAuliya’ (8/252) ; عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ خُبَيْقٍ ٬ حَدَّثَنَا يُوْسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ ٬ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ الْعُرْزُمِيّ ٬ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سَلِيْمٍ ٬ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ ٬ قَال : كَانَ رَسُوْلُ ا لله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ الْكَيَّ وَالطَّعَامَ الْحَارَّ ٬ وَيَقُوْل : عَلَيْكُمْ بِالْبَارِدِ ٬ فَإِنَّهُ ذُوْ بَرَكَةٍ ٬ أَلاَ وَإِنَّ الْحَارَّ لاَ بَرَكَةَ فِيْهِ Dari Abdillah bin Khubaiq, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Asbath, dari Muhammad bin ‘Ubaidillah alUrmuzi, dari Shofwan bin Salim, dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah saw membenci cos dan makanan panas, dan beliau bersabda; Hendaklah kalian (memakan makanan) yang dingin, karena padanya terdapat berkah. Ketahuilah bahwa(makanan) yang panas tidak ada berkahnya. Di dalam sanad hadis ini, Muhammad bin Ubaidullah al‘ Urzumiy adalah rijal yang matruk (ditinggalkan hadisnya) karena buruk hafalannya. Pada mulanya ia adalah seorang yang shalih tetapi kemudian kitabnya hilang, sehingga dia mengajarkan hadis dari hafalannya. Dari itulah ia mengajarkan hadis tidak seperti yang tidak diajarkan oleh orang-orang yang siqah, sehingga ahli hadis meninggalkan hadisnya.

Metode Dakwah

Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 BAB I 3 PENDAHULUAN 3 A. Latar Belakang Masalah 3 B. Pembatasan Masalah 3 C. Rumusan Masalah 4 D. Tujuan Penulis...