About

Saturday, 13 October 2018

Media Pembelajaran

BAB I MEDIA PEMBELAJARAN A. Pengertian Media Pembelajaran Media secara bahasa adalah perantara atau pengantar sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan pebelajar melakaukan kegiatan belajar. Menurut islilah media pembelajaran adalah segala sesuatu atau alat yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik atau pebelajar. Melihat dari pengetian diatas maka dapat disimpulkan beberapa manfaat dari media pembelajaran, yaitu: 1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan 2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas,menarik dan lebih interaktif 3. Proses pembelajaran menjadi efisien waktu dan tenaga. 4. Meningkatkn kualitas hasil belajar peerta didik 5. Memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja 6. Menumbuhkan sikap positif pebelajar terhadap materi 7. Mengubah peran guru lebih positif dan produktif B. Sumber Belajar Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Dalam pradigma pendidikan konvensional guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar, namun sekarang dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasilitas belajar agar pebelajar mau belajar (fasilitator) C. Jenis-Jenis Sumber Belajar Ada 6 jenis sumber belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, di antaranya: 1. Pesan (Message) 2. Orang (People) 3. Bahan (Matterials) 4. Alatn (Device) 5. Teknik 6. Latar (Setting) BAB II PEMBAGIAN MEDIA PEMBELAJARAN Banyak cara diungkapakan untuk mengidentifikasi media serta mengklarifikasikan karakteristik fisik,sifat,kompleksitas, ataupun klasifikasi menurut kontrol pada pemakai. Namun demikan secara umum media bercirikan tiga unsure pokok, yaitu suara,visual dan gerak A. Media Visual Media visual dalam pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk belajar mengajar yang dapat dinikmati dengan penglihatan. Media ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu 1. Media visual yang diproyeksikan 2. Media visual yang tidak diproyeksikan. B. Media Audio Media visual dalam pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk belajar mengajar yang dapat dinikmati dengan pendengaran. Secara fisik jenis media yang tergolong sebagai audio visual adalah kaset audio dan disk audio. Berapa contoh yang termasuk media audio adalah Radio dan alat perekam pita magnetik, jenis media ini berfungsi sebagai: 1. Pemusatan perhatian dan mempertahankan pemusatan perhatian 2. Melatih berbahasa 3. Melatih daya analisis pebelajar dari apa yang mereka dengar 4. Belajar jarak jauh C. Media Audio visual Dari segi nama dapat di simpukan bahwa media ini merupakan media gabungan antara visual dan audio yang berarti media ini dapat dinikmati dengan cara di dengar dan di lihat. Berikut beberapa contoh dari media audio visual: a. Film atau disebut juiga gambar hidup b. Telivisi c. Video Cassette Recorder d. Multimedia e. Komputer Jenis-jenis media dikelompokkan sebagai berikut. No Jenis Media Media intruksional 1 Audio • Pita audio (rol atau kaset) • Piringan audio • Radio (rekaman suara) 2 Cetak • Buku teks terprogram • Buku pegangan • Buku tugas 3 Audio-Cetak • Buku latihan dilengkapi kaset • Gambar/poster (dilengkapi audio) 4 Proyek visual diam • Film bingkai (slide) • Film rangkai (berisi pesan verbal) 5 Proyek visual diam dengan audio • Film bingkai (slide) suara • Film rangkai suara 6 visual gerak • Film bisu dengan judul (caption) 7 visual gerak dengan audio • Film suara • Video/VCD/DVD 8 Benda • Benda nyata • Model tiruan 9 Komputer • CAI (Computer Assisted Instructional) • CMI (Computer Managed Instructional) BAB III PENGEMBANGAN, PERAN DAN PEMILIHAN MEIDA PEMBELAJARAN A. Prinsip Umum Pengembangan Dalam pengembangan pembelajaran diperlukan adanya beberapa konsep serta prisip-prnsip agar pembelajaran bisa di pahami dan di mengerti oleh pebelajar dalam proses pembelajaran, berikut beberapa pengembangan yang harus ada dalam media pembelajaran: 1. Kesederhanaan 2. Kesatuan 3. Penekanan 4. Keseimbangan B. Pembuatan Transparansi Dalam membuat transparansi banyak cara yang digunakan mulai dari yang sederhana sampai dengan cara yang rumit. Berikut beberapa cara pembuatan transparansi. 1. Langsung pada Transparansi (acatet), bahan dasarnya berupa transparan plastik tipis yang disebut acatet. 2. Transparansi dengan Reproduksi yaitu memperbanyak ganbar atau tulisan yang persis sama dengan menggunakan mesin foto copy dan termofax. C. Peranan Media Pembelajaran Kedudukan media dalam pembekajaran sangat penting, bahkan sejajar dengan metode pembelajaran, karena metode yang digunakan dalam proses pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat diintegrasikan dan diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi. Berikut ini gambaran mengenai posisi media dalam suatu prose belajar mengajar. Terjadinya pengalaman belajar yang bermakna tidak terlepas dari peran media, secara umum media mempunyai peranan sebagai berikut: a. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran padasaat guru menyampaikan pelajaran. b. Alat untuk menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut oleh pebelajar dalam proses belajarnya. c. Sumber belajar bagi pebelajar. D. Pemilihan Media Minimal ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam memilih media yang pas untuk pengajaran, yaitu: 1. Memahami karakteristik setiap media 2. Sesuai dengantujuan yang hendak dicapai 3. Sesuai dengan meted pengajaran yang kita gunakan 4. Sesuai dengan materi yang kita komunikasikan 5. Sesuai dengan keadaan pebelajar 6. Sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan BAB IV PENGGUNAAN MEDIA BELAJAR A. Langkah-Langkah Penggunaan Media Pemilihan media sangatlah perlu agar dapat menentukan media yang terbaik,tepat, dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begiitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan klemahan masing-masing. Penggunaan media harus dapat memperlakukan pebelajar secara aktif. Lebih baik menggunakan media yang sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh pebelajar daripada media canggih namun justru membuat pebelajar kita terheran-heran pasif. Ada enam langkah yang bisa kita tempuh pada waktu mengajar dengan mempergunakan media. Langkah-langkah tersebut disebutkan sebagai berikut: 1. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan media. 2. Persiapan guru 3. Persiapan kelas 4. Langkah penyajian materi ajar dan pemanfaatan media. 5. Langkah kegiatan belajar pebelajar 6. Lengkah evaluasi pebelajar. BAB V MEDIA PEMBELAJARAN DALAM ONLINE LEARNING DAN DISTANCE LEARNING A. Pengertia Online Learning Media pembelajaran dalam bentuk online learning sering disebut juga dengan electronic learning atau e-learning. Electronic Leaarning merupakan pembelajaran yang disajikan dengan menggunakan media computer dan media lain yang tetap berbasis computer. Ada 3 fungsi pembelajaran elektronik (e-learning) terhadap kegiatan belajar mengajar: 1. Suplemen bagi pebelajar atau pelengkap dalam menambah materi atau memahami materi bagi pebelejar. 2. Komplemen (pelengkap materi atau remedial bagi peserta didiik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional 3. Substitusi (pengganti ) Adapun kelebihan dari media e-learning dengan menggunakan jaringan internet adalah: a. Informasi yang disajikan real time b. Interaksi antara pendidik dengan peserta didik terjadi secara langsung walau tanpa tatap muka. c. Terdapat forum online antar pelajar d. Dapat diakses kapan saja dan dimana saja e. Penyampaian pengumuman,administrasi, jadwal dan pengumpulan tugas dapat dilakukan secara online. B. Pembelajara Distance Learning Distance Leraning merupakan metode pembelajaran jarak jauh antara pengajar dengan pelajar untuk memberikan kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh kendala waktu,ruang dan tempat, serta keterbatasan sitem pendidikan tradisional. Dengan adanya distance learning siswa dapat belajar di rumah, mengerjakan soal-soal latihan seperti yang tejadi pada metode pembelajara tradisional. Interaksi antara pengajar dan pelajar masih tetap berlangsung dengan media yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi.

Metode Dakwah

KATA PENGANTAR Assalamualaikum.wr.wb. Puji syukur kita panjatkan kepada sang Khaliq atas segala penciptaan alam semesta ini yang patut kita syukuri. Karena tanpa rahmat-Nya bagi semua insan di dunia ini,sehingga dapat merasakan hembusan nafas untuk melaksanakan segala perintah-Nya. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi akhir zaman yang dapat memberikan syafa’at terhadap ummatnya. Nabi yang berketeladanan yang bisa menjadi publik figur bagi para nafs yang hidup di dunia ini. Makalah ini kami persembahkan sebagai wujud komitmen kami dalam mewujudkan kualitas dunia pendidikan serta melahirkan mahasiswa yang berkepribadian baik dan berakhlak mulia. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen atas bimbingan serta ilmu yang beliau berikan kepada kami. Dan kami ucapkan juga banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan dukungannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Apabila ada kesalahan serta kekurangan pada makalah ini kami mohon maaf. Semoga makalah ini dapat bermanfaat serta dapat menambah wawasan kita semua. Amien... Wassalamu’alaikum.wr.wb Pamekasan,13 Maret 2017 Penyusun Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 BAB I 3 PENDAHULUAN 3 A. Latar Belakang Masalah 3 B. Pembatasan Masalah 3 C. Rumusan Masalah 4 D. Tujuan Penulisan 4 BAB II 5 PEMBAHASAN 5 A. Metode Dakwah 5 B. Fungsi Dakwah 6 C. Pengembangan Metode Dakwah 7 BAB III 12 PENUTUP 12 Kesimpulan 12 DAFTAR PUSTAKA 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam tugas penyampaian dakwah Islamiyah, seorang da’i sebagai subjek dakwah memerlukan seperangkat pengetahuan dan kecakapan dalam bidang metode. Dengan mengetahui metode dakwah, penyampaian dakwah dapat mengenai sasaran, dan dakwah dapat diterima oleh ma’u dengan mudah karena penggunaan metode yang tepat sasaran. Seorang da’i dalam menentukan metode dakwahnya sangat memerlukan pengetahuan dan kecakapan di bidang metodologi. Selain itu, pola berpikir dengan pendekatan sistem (approach system), dimana dakwah merupakan suatu sistem, dan metodologi merupakan salah satu dimensinya, maka metodologi mempunyai peranan dan kedudukan yang sejajar dan sederajat dengan unsur-unsur lainnya seperti tujuan dakwah, objek dakwah, subjek dakwah maupun kelengkapan dakwah lainnya. Dengan menguasai metode dakwah, maka pesan-pesan dakwah yang disampaikan seorang da’i kepada mad’u sebagai penerima atau objek dakwah akan mudah dicerna dan diterima dengan baik. Mengacu pada ulasan di atas maka penulis berproses kreatif untuk menulis makalah yang berjudul “Fungsi Metode Dakwah dalam Pengembangan Dakwah”. B. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah ini dimaksudkan agar karya penulis tidak terlalu luas pembahasannya sehingga penjelasan penulis tidak terlalu mendalam. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis akan membahas tentang prinsip metode dakwah berdasarkan al-Qur’an dan hadits. C. Rumusan Masalah Dalam penyusunan makalah ini pokok permasalahan yang akan dirumuskan oleh penulis adalah sebagai berikut: 1. Apa saja metode dakwah? 2. Apa fungsi dakwah? 3. Apa saja metode pengembangan dakwah? D. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui metode dakwah dakwah 2. Mengetahui fungsi dakwah 3. Mengetahui metode pengembangan dakwah BAB II PEMBAHASAN A. Metode Dakwah Secara etimologi, metode berasal dari Bahasa Yunani metodos yang artinya cara atau jalan. Jadi, metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Dalam rangka dakwah Islamiyah agar massyarakat dapat menerima dakwah dengan lapang dada, tulus, dan ikhlas maka penyampaian dakwah harus melihat situasi dan kondisi masyarakat objek dakwah. Kalau tidak, maka dakwah tidak dapat berhasil dan tidak tepat guna. Di sini diperlukan metode yang efektif dan efisien untuk diterapkan dalam tugas dakwah. Dakwah memiliki cakupan luas, sebab jika mengacu pada tradisi Rasulullah, seluruh segi kehidupan yang ditempunya adalah cakupan dakwah. Dakwah merupakan aktualisasi iman yang mengambil bentuk berupa suatu sistem kegiatan manusia dalam bidang kemasyarakatan, yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, cara berpikir, dan bersikap secara Islami, baik hiasan maupun perbuatan. Dakwah adalah sentuhan-sentuhan psikologis dan sosiologis dengan realitas yang ada, sehingga dakwah mampu memberi dasar filosofi, arah, dorongan, dan pedoman perubahan masyarakat sampai terwujudnya masyarakat yang Islami, yakni berupa individu-individu yang memahami dan melaksanakan agama, keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, masyarakat yang martabat, serta ujungnya adalah negara yang thayyibah. Landasan umum mengenai metode dakwah adalah al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125, yaitu: ادْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحَكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ , اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ. Artinya: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik,dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” B. Fungsi Dakwah Islam adalah ajaran Allah SWT yang sempurna dan diturunkan untuk mengatur kehidupan individu dan masyarakat. Akan tetapi, kesempurnaan ajaran Islam hanya merupakan ide dan angan-angan saja jika ajaran yang baik itu tidak disampaikan kepada manusia. Lebih-lebih ajaran tersebut tidak diamalkan dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, dakwah merupakan aktifitas yang sangat penting untuk menyampaikan ajaran Islam sehingga Islam dapat diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh manusia dari generasi ke generasi berikutnya dalam kehidupan. sebaliknya, tanpa dakwah terputuslah generasi manusia yang mengamalkan Islam dan selanjutnya Islam akan lenyap dari permukaan bumi. Oleh karena itu, dakwah sangat penting dan dapat diuraikan beberapa fungsi dakwah sebagai berikut: 1. Dakwah berfungsi untuk menyebarkan Islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga mereka merasakan rahmat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh makhluk Allah SWT. Tertera dalam QS. Al-Anbiya: 108; قل إنما يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فهل انتم مسلمون Artinya : Katakanlah : “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. 2. Dakwah berfungsi melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya sehingga kelangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari generasi ke generasi berikutnya tidak terputus. Dimana sejarah membuktikan bahwa makin lama, nilai-nilai dan ukuran moral semakin menghilang dari kehidupan bangsa, meskipun segala usaha telah dikerahkan, baik oleh para reformer maupun oleh para pemimpin. Segala cara telah ditempuh, namun berakhir dengan kegagalan. Gejala demikian dalam kenyataannya merupakan bukti bahwa kebudayaan ateis telah membenamkan bahtera kemanusiaanejala demikian dalam kenyataannya merupakan bukti bahwa kebudayaan ateis telah membenamkan bahtera kemanusiaan ke dalam lumpur yang menyesatkan perjalanannya. Tiada penyelesaian terhadap krisis demikian kecuali, dengan kembali pada kebesaran Allah, dan mengakui serta meyakini akan pentingnya bagi kehidupan. menurut Waheeduddin Khan, inilah satu-satunya landasan yang bisa menolong untuk menggerakkan kehidupan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan bukan landasan lain. 3. Dakwah berfungsi korektif artinya meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah kemungkaran dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani. Imanlah unsur satu-satunya yang mampu mengubah jiwa-jiwa secara sempurna dan membentuk manusia yang Imanlah unsur satu-satunya yang mampu mengubah jiwa-jiwa secara sempurna dan membentuk manusia yang berakhlak lurus serta menjauhkan manusia dari kegelapan. Oleh sebab itu, berdakwah dalam rangka menanamkan keimananleh sebab itu, berdakwah dalam rangka menanamkan keimananlah sebab itu, berdakwah dalam rangka menanamkan rasa keimanan dalam konsep Islam sama halnya dengan mengkomunikasikan iman sendiri kepada orang lain sehingga mereka menjadi manusia yang muslim dan mukmin. C. Pengembangan Metode Dakwah Dakwah bisa dilakukan dengan bebagai cara, selama cara-cara yang dilakukan itu baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Secara umum, menurut Dindin Solahudin, dkk, ada beberapa cara dakwah yang bisa dipraktikkan para da’i, terutama para muballigh, yakni: 1. Metode mengemukakan kisah (narative method) 2. Metode nasihat panutan (advision method) 3. Metode pembiasaan (tradition method) Apabila ditinjau dari sudut pandang yang lain,metode dakwah dapat dilakukan pada berbagai metode yang lazim dilakukan dalam pelaksanaan dakwah. Metode-metode tersebut adalah sebagai berikut: 1. Metode Ceramah Metode ceramah adalah metode yang dilakukuan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian, dan penjelasan tentang sesuatu kepada pendengar dengan menggunakan lisan. 2. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan tanya jawab untuk mengetahui sampai sejauh mana ingatanatau pikiran seseorang dalam memahami atau menguasai materi dakwah, disamping itu, juga untuk merangsang perhatian penerima dakwah. 3. Metode Diskusi Diskusi sering dimaksudkan sebagai pertukaran pikiran (gagasan, pendapat, dan sebagainya) antara sejumlah orang secara lisan membahas suatu masalah tertentu yang dilaksanakan dengan teratur dan bertujuan untuk memperoleh kebenaran. 4. Metode Propaganda (Di’ayah) Metode propagana adalah suatu upaya untuk menyiarkan Islam dengan cara mempengaruhidan membujuk massa secara massal, persuasuif, dan bersifat otoritatif. 5. Metode Keteladanan Dakwah dengan menggunkana metode keteladanan atau demonstrasi berarti suatu cara penyajian dakwah dengan memberikan keteladanan langsung sehingga mad’u akan tertarik untuk mengikuti kepada apa yang dicontohkannya. 6. Metode Drama Dakwah dengan menggunakan metode drama adalah suatu cara menjajakan materi dakwah dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan kepada mad’u agar dakwah dapat tercapai sesuai yang ditargetkan. 7. Metode Silaturrahim (Home Visit) Dakwah dengan menggunakan metode home visit atau silaturrahim yaitu dakwah yang dilakukan dengan mengadakan kunjungan kepada suatu objek tertentu dalam rangka menyampaikan isi dakwah kepada penerima dakwah. Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan metode dakwah adalah pengembangan yang terarah dan bermetodik artinya menggunakan metode penelitian ilmiah yang sudah ada, karena pengembangan ilmu hanya dapat dilakukan dengan penelitian baik melalui library research (riset kepustakaaan), maupun field research (riset lapangan/empiris). Ilmu komunikasi adalah suatu ilmu yang baru saja dikenal dalam peradaban manusia, walaupun manusia telah melakukannya sejak mereka mendiami bola bumi ini. Komunikasi agama(dakwah) telah dilakukan oleh para Rasul Allah. Didalam Al-Qur’an ditemukan cerita dakwah mereka, dan kisah mereka telah dibukukan dalam kitab qisash ‘lal anbiya. Jadi dakwah pun sudah berusia lama. Adapun dakwah islamiyah yang di dakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW dilakukan sejak beliau diangkat menjadi Rasul. Komunikasi agama (dakwah) masa sekarang kiranya dapat dikembangkan melalui pengkajian dari dua sisi: (1) bagaimana kepercayaan agama, norma, nilai, dan kebajikannya berada di dalam pesan dakwah dan (2) Pengkajian terhadap alternatif dan sarana bagi penyampaian pesan dakwah itu kepada manusia, baik yang bermuatan kepercayaan, norma, nilai, mauppun kebajikan. Secara umum metode penyelidikan ilmiah dalam buku “filsafat ilmu pengetahuan” disebutkan dua metode yaitu: 1) Metode siklus empirik, yaitu cara-cara penanganan sesuatu objek ilmiah tertentu yang dialakukan dalam ruang-ruang tetutup, seperti dalam laboratorium-laboratorium, dalam kamar-kamar kerja ilmiah, dalam studio-studio ilmiah dan sebagainya. 2) Metode Linier, yaitu cara-cara penanganan sesuatu objek ilmiah tertentu yang terdapat dan dilakukan di alam terbuka, khususnya yang menyangkut perikehidupan atau tingkah laku manusia. Dakwah adalah sesuatu suatu kegiatan penyampaian ajaran islam dari seseorang kapada orang lain yang berarti termasuk tingkah laku manusia sebagaimana yang diselidiki dengan metode linear diatas. Aktifitas dakwah seperti ini telah ada sejak berabad-abad yang lampau sampai sekarang. Sejak diturunkanya rosulullah dipermukaan bumi ini dakwah telah dilaksanakan dan itu berlangsung sampai sekarang dengan berbagai variasinya. Dengan kenyataan diatas maka jika suatu penyelidikan mengenai dakwah dengan sekat problemmatikanya menajdi suatu ilmu pengetahuan tentang dakwah atau dengan maksud mengembangkan ilmu tersebut maka penyelidikannya dapat dilakukan secara historis maupun secara empiris. 1. Penyelidikan Historis Drs. S. Imam Asy’ari mengatakan bahwa metode sejarah (historika) itu adalah menganalisis kedudukan keadaan yang terdapat sekali berlalu dengan menyatakan kausalitas atau sebab-akibatnya. Meneliti peristiwa-peristiwa, proses-proses dan lembaga-lembaga peradaban manusia masa silam dengan tujuan untuk mendapatkan untuk gambaran yang tepat tentang kehidupan manusia waktu itu. Bentuk-bentuk sosial sekarang, kebiasaan-kebiasaan atau cara hidup kita mempunyai akar-akarnya di masa lalu, karena itu dasar cita tersebut dapat diterangkan dengan paling baik melacaknya kembali dari sumber-sumbernya. Yang menjadi sorotan utama adalah dalam penyelidikan historis dakwah ini adalah bentuk-bentuk dakwah yang telah dilaksanakan pada masa lampau terutama dakwah pada masa-masa Rasulullah, dakwah pada masa khulafaurrosyidin serta dakwah pada masa berikutnya baik di masa kejayaan islam maupun kemerosotannya. Dakwah islam yang ada sekarang ini mempunyai kaitan yang erat dengan dakwah islam pada masa-masa silam tersebut. 2. Penyelidikan empiris Penelitian empiris ini ditujukan kepada segala bentuk aktifitas dakwah islam yang dilaksanakan pada saat ini dengan segala problematikanya. Data-data yang lengkap mengenai dakwah yang telah dipeorleh baik secara historis maupun secara empiris kemudian dianalisis sehingga menelorkan beberapa teori tentang dakwah yang dikembangkan lebih lanjut dalam ilmu dakwah. Segi-segi dakwah yang disoroti dalam penelitian ini adalah mengenai unsur-unsur yang mesti ada dalam setiap pelaksanakan dakwah yaitu mengenai subjek dakwah (da`i), penerima dakwah, isi dakwah, media dakwah, serta pengaruh yang ditimbulkanya terhadap sikap dan tingkah laku keagamaan individu dan masyarakat yang menerimanya (internalisasi nilai-nilai agama).penelitian secara historis dan empiris mengenai dakwah dengan unsur-unsurnya diatas sudah barang tentu memerlukan ilmu bantu antara lain penelitian,(metodologi riset) dan untuk mempermudah dan mempertajam analisisnya dapat dipakai ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, antropologi, psikologi dan sebagainya yang disesuaikan dengan permasaalahan yang dikaji. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dakwah berfungsi untuk menyebarkan Islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga mereka merasakan rahmat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh makhluk Allah SWT. Dakwah juga berfungsi melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya sehingga kelangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari generasi ke generasi berikutnya tidak terputus. Pengembangan metode dakwah adalah pengembangan yang terarah dan bermetodik artinya menggunakan metode penelitian ilmiah yang sudah ada, karena pengembangan ilmu hanya dapat dilakukan dengan penelitian baik melalui library research (riset kepustakaaan), maupun field research (riset lapangan/empiris). Ilmu komunikasi adalah suatu ilmu yang baru saja dikenal dalam peradaban manusia, walaupun manusia telah melakukannya sejak mereka mendiami bola bumi ini. Komunikasi agama(dakwah) telah dilakukan oleh para Rasul Allah. Didalam Al-Qur’an ditemukan cerita dakwah mereka, dan kisah mereka telah dibukukan dalam kitab qisash ‘lal anbiya. Jadi dakwah pun sudah berusia lama. Adapun dakwah islamiyah yang di dakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW dilakukan sejak beliau diangkat menjadi Rasul. Dengan kenyataan diatas maka jika suatu penyelidikan mengenai dakwah dengan sekat problemmatikanya menajdi suatu ilmu pengetahuan tentang dakwah atau dengan maksud mengembangkan ilmu tersebut maka penyelidikannya dapat dilakukan secara historis maupun secara empiris.

Friday, 12 October 2018

ORGANISASI DAN MODEL-MODEL KURIKULUM

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt., karena atas rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Perkembangan Kurikulum P.A.I ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Tak lupa pula, shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad saw., keluarga, dan seluruh sahabatnya. Makalah Perkembangan Kurikulum P.A.I yang kami susun ini berjudul “Organisasi dan Model-Model Kurikulum”. Makalah ini hadir untuk memenuhi tugas Perkembangan Kurikulum P.A.I. Banyak pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini. Karena itu, kami ucapkan banyak terima kasih. Kami menyadari, bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, olehnya karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian. Besar harapan kami, dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan sumbangsih yang berarti demi kemajuan ilmu pengetahuan bangsa. Pamekasan, 17 Maret 2017 Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 B. Rumusan masalah 1 C. Tujuan 1 BAB II : PEMBAHASAN A. Pengertian organisasi kurikulum 2 B. Bentuk-bentuk organisasi kurikulum 2 C. Model-model pengembangan kurikulum 6 BAB III : PENUTUP A. Kesimpulan 14 B. Saran 16 DAFTAR PUSTAKA 17 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan serta mengatur segala kegiatan yang berlangsung. Kurikulum tercipta dari pemikiran para tokoh sehingga ada masanya kurikulum akan mengalami perkembangan seiring dengan pemikiran para tokoh dan kebutuhan yang mendasarinya. Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. Maka, melalui makalah ini insyaallah penulis akan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan organisasi dan model-model kurikulum. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud organisasi kurikulum? 2. Apa saja bentuk-bentuk organisasi kurikulum? 3. Apa saja model-model pengembangan kurikulum? C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pengertian organisasi kurikulum. 2. Mengetahui bentuk-bentuk organisasi kurikulum. 3. Mengetahui model-model pengembangan kurikulum. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Organisasi Kurikulum Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated). B. Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum Organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran di bedakan atas empat pola, yaitu: 1) Mata Pelajaran Terpisah (Separated Subject Curriculum) Bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan, karena organisasi kurikulum bentuk ini sederhana dan mudah dilaksanakan. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan secara berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali dengan apa yang telah diperoleh dari generasi terdahulu (Nasution, 1986). Secara fungsional bentuk kurikulum ini mempunyai kekurangan dan kelebihan, kekurangan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum), yaitu:  Bahan pelajaran di berikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, tidak menggambarkan adanya hubungan antara materi satu dengan yang lainnya.  Bahan pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari siswa tidak bersifat aktual.  Proses belajar lebih mengutamakan aktifitas guru sedangkan siswa cenderung pasif.  Bahan pelajaran tidak berdasarkan aspek permasalahan sosial yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.  Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan yang akan dating.  Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa. Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum), adalah:  Bahan pelajaran disusun secara sistematis, logis, sederhana, dan mudah dipahami.  Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu.  Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.  Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada. 2) Mata Pelajaran Terhubung (Correlated Curriculum) Pola kurikulum korelasi, yaitu pola organisasi isi kurikulum yang menghubungkan pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, atau satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pola kurikulum jenis ini. Kekurangannya adalah:  Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.  Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang aktual yang langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.  Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa.  Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan terlampau abstrak. Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran terhubung (correlated curriculum) adalah:  Ada keterhubungan antar materi pelajaran walau sebatas beberapa mata pelajaran.  Memberikan wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.  Menambah minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang terkorelasi. 3) Fusi Mata Pelajaran (Broadfield Curriculum) Fusi mata pelajaran (broadfield curriculum) adalah jenis organisasi kurikulum yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan. Contohnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil peleburan dari ilmu fisika, ilmu hayat, ilmu kimia, dan ilmu kesehatan. Tipe organisasi ini pertama kali dikemukakan oleh Phenik. Model organisasi ini memiliki keunggulan diantaranya adalah mata pelajaran akan semakin dirasakan kegunaannya, sehingga memungkinkan pengadaan mata pelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar generalisasi. Adapun kelemahannya adalah hanya memberikan pengetahuan secara sketsa, abstrak, kurang logis dari suatu mata pelajaran. (Soetopo dan Soemanto dalam Idi 1999: 29-30) 4) Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum) Kurikulum ini memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan, sehingga batas-batas antar mata pelajaran dapat ditiadakan. Pembelajaran yang mungkin digunakan diantaranya pemecahan masalah, metode proyek, pengajaran unit (unit teaching), inkuiri, diskoveri (discovery), dan pendekatan tematik yang dilakukan dalam pembelajaran kelompok maupun perorangan. Kekurangan organisasi kurikulum ini, antara lain:  Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum seperti ini.  Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.  Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana.  Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara mencolok.  Kemungkinan akan memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Kelebihan organisasi kurikulum ini, antara lain:  Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara memadukan beberapa mata pelajaran secara menyeluruh dalam menyelesaikan suatu topic atau permasalahan.  Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya secara individu.  Mempraktikkan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.  Dapat membantu meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat.  Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain. Beberapa bentuk organisasi kurikulum dalam kategori ini diantaranya adalah sebagai berikut: a) Kurikulum Inti (Core Curriculum) Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah: 1) Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue), selalu berkaitan, dan direncanakan secara terus menerus; 2) Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan; 3) Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara aktual; 4) Isi kurikulum mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun social; 5) Isi kurikulum ini difokuskan untuk semua siswa. Topik-topik yang diangkat dalam kurikulum ini selalu berkaitan dengan beberapa disiplin ilmu dan lingkungan. Misalnya: penanggulangan penyebaran virus flu burung (Avian Influenza/ AI). b) Social Functions dan Persistent Situations Kurikulum ini didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat diantaranya: 1) memelihara dan menjaga keamanan masyarakat; 2) perlindungan dan pelestarian hidup, kekayaan, dan sumber alam; 3) komunikasi dan transportasi; 4) kegiatan rekreasi, dll. c) Experience atau Activity Curriculum Kurikulum ini cenderung mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegrasi dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa. Ada empat tipe pembelajaran proyek yang dapat dikembangkan dalam activity curriculum, diantaranya: 1) Construction on creative project. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu. Misalnya menulis gagasan atau surat. 2) Appreciation on enjoyment project. Pembelajaran in bertujuan menikmati pengalaman-pengalaman dalam bentuk apresiasi atau estetis (estetika). Misalnya mendengarkan music. 3) The problem project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat intelektual, tetapi ada substansi keterampilannya (vokasional). 4) The drill or specific project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memperoleh beberapa item atau tingkat keterampilan. C. Model-Model Pengembangan Kurikulum Model adalah pola-pola penting yang berguna sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan. Model dapat ditemukan dalam hampir setiap bentuk kegiatan pendidikan, seperti model pengajaran, model adtninistrasi, model evaluasi, model supervisi dan model lainnya. Menggunakan model pada perkembangan kurikulum dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Banyak sekolah/fakultas mempunyai rancangan untuk satu tahun, mereka telah memikirkan polanya untuk memecahkan masalah pendidikan atau prosedur yang tidak dapat dihindari, walaupun begitu mereka tidak mempunyai lebel kegiataanya sebagai rancangan. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan menyeluruh. Adapun model-model pengembangan kurikulum diantaranya: 1. Model Ralph Tyler Dalam bukunya yang berjudul “Basic Principles Curriculum and Instruction (1949), Tyler mengatakan bahwa “Curriculum development needed to be treated logically and systematically”. Ia berupaya menjelaskan tentang pentingnya pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasi kurikulum dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Lebih lanjut, Tyler mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan suatu kurikulum, perlu menempatkan empat pertanyaan berikut: 1. What educational purposes should the school seek to attain? (objectives). 2. What educational experiences are likely to attain these objectives? (instructional strategic and content). 3. How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences). 4. How can we determine whether these purposes are being attain? (assesment and evaluation). Sesuai dengan judul bukunya, model pengembangan kurikulum Tyler ini lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum, sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dengan demikian, model ini tidak menguraikan pengembangan kurikulum dalam bentuk langkah-langkah konkrit atau tahapan-tahapan secara rinci. Tyler hanya memberikan dasar-dasar pengembangannya saja. Menutut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum, diantaranya: a. Menentukan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan harus menggambarkan perilaku akhir setelah peserta didik mengikuti program pendidikan, sehingga tujuan tersebut harus dirumuskan secara jelas sampai pada rumusan tujuan khusus guna mempermudah pencapaian tujuan tersebut. Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tujuan pendidikan menurut Tyler, yaitu: hakikat peserta didik, kehidupan masyarakat masa kini, dan pandangan para ahli bidang studi. Penentuan tujuan pendidikan dengan berdasarkan masukan dari ketiga aspek tersebut selanjutnya difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat dan filosofis pendidikan serta psikologi belajar. Ada lima faktor yang menjadi arah penentuan tujuan pendidikan, yaitu: pengembangan kemampuan berpikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan pengembangan sikap sosial. b. Menentukan pengalaman belajar Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Ada empat prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa. Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kedua, setiap pengalaman belajar harus memuaskan siswa. Ketiga, setiap rancangan pengalaman siswa belajar sebaiknya melibatkan siswa. Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang berbeda. c. Mengorganisasi pengalaman belajar Ada dua jenis pengorganisasian pengalaman belajar. Pertama, pengorganisasian secara vertical yaitu pengorganisasian yang menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat berbeda. Misalkan, pengorganisasian pengalaman belajar yang menghubungkan antara bidang geografi dikelas lima dan kelas enam. Kedua, pengorganisasian secara horizontal yaitu pengorganisasian yang menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang berbeda dalam tingkat yang sama. Misalkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Menurut Tyler (1950: 55) dalam mengorganisasi pengalaman belajar terdapat tiga prinsip, yaitu kontinuitas, urutan isi, dan integrasi. d. Evaluasi Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi, yaitu: 1) evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. 2) evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Ada dua fungsi evaluasi: Pertama, evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik (fungsi sumatif). Kedua, untuk melihat efektivitas proses pembelajaran (fungsi formatif). 2. Model Hilda Taba Pada beberapa buku karya Hilda Taba, yang paling terkenal dan besar pengaruhya adalah Curriculum Development: Theory and Practice (1962). Dalam buku ini, Hilda Taba mengungkapkan pendekatannya untuk proses pengembangan kurikulum. Dalam pekerjaannya itu, Taba memodifikasi model dasar Tyler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum diberbagai sekolah. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemuasatan perhatian guru. Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Menurut Taba, guru harus penuh aktif dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan gurudan memposisikan guru sebgai inovator dalam pengembang kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba. Model terbalik ini dikembangkan oleh Hilda Taba atas dasar data induktif yang disebut model terbalik, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari Taba: 1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru. Dalam kegiatan ini perlu mempersiapkan perencanaan berdasarkan pada teori-teori yang kuat, eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilkan data empirik dan teruji. a. Mendiagnosis kebutuhan b. Merumuskan tujuan-tujuan khusus c. Memilih isi d. Mengorganisasi isi e. Memilih pengalaman belajar f. Mengorganisasi pengalaman belajar g. Mengevaluasi h. Menguji keseimbangan isi kurikulum 2. Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya. 3. Merevisi dan mensolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba. 4. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum. 5. Implementasi dan diseminasi kurikulum yangtelah teruji. Pada tahap terakhir ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, lokakarya dan lain sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum. 3. Model Oliva Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprehensif dan sistematik. Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Oliva terdiri dari 12 komponen yang harus dikembangkan. Komponen pertama adalah perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat. Komponen kedua adalah analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolahitu berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah. Komponen ketiga dan keempat, berisi tentang tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum yang didasarkan kepada kebutuhan seperti yang tercantum dalamkomponen I dan II. Sedangkan dalam komponen V adalah bagaimana mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum. Komponen VI dan VII mulai menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran telah dirumuskan, maka selanjutnya menetapkan strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan seperti yang pada komponen VIII. Selama itu pula dapat dilakukan studi awal tentang kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan (komponen IX A). Selanjutnya pengembangan kurikulum diteruskan pada komponen X yaitu mengimplementasikan strategi pembelajaran. Setelah strategi diimplementasikan, pengembang kurikulum kembali pada komponen IX yaitu komponen IX B untuk menyempurnakan alat atau teknik penilaian. Teknik penilaian seperti yang telah ditetapkan pada komponen IX A bisa ditambah atau direvisi setelah mendapatkan masukan dari pelaksanaan atau implementasi kurikulum. Dari penetapan alat dan teknik peilaian itu, maka selanjutnya pada komponen XI dan XII dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum. Menurut Oliva, model yang dikembangkan ini dapat digunakan dalam beberapa dimensi. Pertama, untuk menyempurnakan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus, misalkan penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya. Kedua, model ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum. Ketiga, model ini dapat digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran secara khusus. 4. Model Beauchamp Model ini dikembangkan oleh G. A. Beauchamp seorang ahli kurikulum. Menurut Beauchamp (1931), proses pengembangan kurikulum meliputi lima tahap, yaitu: 1) Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan,kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional. 2) Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Ada 4 kategori orang yang sebaiknya dilibatkan, yaitu: a. Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang studi. b. Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih. c. d. Para profesional dalam bidang pendidikan. e. Profesional lain dan tokoh masyarakat. 3) Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta menetapkan evaluasi, juga dalam menentukan desain kurikulum secara keseluruhan. Kegiatan ini terdiri dari lima tahap, yaitu: (a) membentuk tim pengembangan kurikulum; (b) mengadakan penelitian dan penilain terhadap kurikulum yang sedang berlaku; (c) studi penjagaan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru; (d) menentukan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru; (e) penyusunan dan penulisan kurikulum baru. 4) Implementasi kurikulum. Tahap ini yaitu pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh tim pengembang. Dalam pelaksanaan kurikulum dibutuhkan kesiapan guru, siswa, fasilitas, biaya, manajerial, dan kepemimpinan sekolah. 5) Evaluasi kurikulum, meliputi: a. Pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru. b. Desain kurikulumnya. c. Hasil belajar siswa. d. Keseluruhan dari system kurikulum. 5. D.K Wheeler Dalam bukunya yang cukup berpengaruh, Curriculum Process, Wheeler mempunyai argumen tersendiri agar pengembang kurikulum (curiculum developes) dapat menggunakan suatu proses melingkar (a circle process), yang mana setiap elemen saling berhubungan dan saling bergantung. Wheeler berpendapat proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase atau tahap, yakni: 1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bisa merupakan tujuan yang bersifat normatif yang mengandung tujuan filosofis atau tujuan pebelajaran umum yang bersifat praktis. Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang bersifat spesifik dan observable (objective) yakni tujuan yang mudah diukur ketercapaiannya. 2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam lngkah pertama. 3. Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar. 4. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajardengan isi atau materi belajar. 5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan. 6. Model Audrey and Howard Nicholls Dalam bukunya, Developing Curriculum: a Practical Guide, Audery dan Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang tegas mencakup elemen-elemen kurikulum dengan jelas tapi ringkas. Nicholls menitik beratkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. Model pengembangan kurikulum Audery dan Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Audery dan Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Audery dan Nicholls yaitu: 1. Analisis situasi 2. Menentukan tujuan khusus 3. Menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran 4. Menentukan dan mengorganisasi metode 5. Evaluasi. 7. Model Malcolm Skillbeck Menurut Skilbeck, model pengembangan kurikulum yang ia namakan model Dynamic, adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah (School Nased Curriculum Development). Dalam model dinamik yang dikembangkan oleh Skilbeckini, proses kurikulum tidak mengikuti pola urutan (sequence) tertentu. Pengembangan kurikulum dapat dimulai dengan unsur kurikulum apapun dan diproses dalam urutan atau susunan apapun. Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis situasi sampai pada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yangia susun dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah. Menurut Skilbeck langkah-langkah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis situasi 2. Memformulasikan tujuan 3. Menyusun progam 4. Interpretasi dan implementasi 5. Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated). 2. Bentuk-bentuk organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran di bedakan atas empat pola, yaitu: a. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) b. Mata pelajaran terhubung (correlated curriculum) c. Fusi mata pelajaran (broadfield curriculum) d. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), meliputi: 1) kurikulum inti (core curriculum); 2) social functions dan persistent situations; 3) experience atau activity curriculum 3. Model-model pengembangan kurikulum: a) Langkah-langkah pengembangan model Ralph Tyler, yaitu:  Menentukan tujuan pendidikan  Menentukan proses pembelajaran  Menentukan organisasi pengalaman belajar  Menentukan evaluasi pembelajaran b) Langkah-langkah pengembangan model Hilda Taba, yaitu:  Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru.  Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.  Merevisi dan mensolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.  Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.  Implementasi dan diseminasi kurikulum yangtelah teruji. Pada tahap terakhir ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, lokakarya dan lain sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum. c) Langkah-langkah pengembangan model Oliva, yaitu:  (a) Perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat.  (b) Analisis kebutuhan masyarakat  (c) dan (d) Tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum  (e) mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum  (f) dan (g) Menjabarkan kurikulum dalam bentk tujuan umum dan tujuan khusus  (h) menetapkan strategi pembelajaran untuk mencapa tujuan  (i) studi awal tentang kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan  (j) mengimplementasikan strategi pembelajaran  (k) dan (l) Evaluasi terhadap pembelajaran dan kurikulum d) Langkah-langkah pengembangan model Beauchamp, yaitu:  Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum.  Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.  Menetapkan prosedur yang akan ditempuh  Implementasi kurikulum.  Evaluasi kurikulum e) Langkah-langkah pengembangan model Wheeler, yaitu:  Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.  Menentukan pengalaman belajar  Menentukan isi atau materi pembelajaran.  Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar.  Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan f) Langkah-langkah pengembangan model Audery dan Hoeards Nicholls, yaitu:  Analisis situasi  Menentukan tujuan khusus  Menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran  Menentukan dan mengorganisasi metode  Evaluasi g) Langkah-langkah pengembangan model Malcom Skillbeck, yaitu:  Menganalisis situasi  Memformulasikan tujuan  Menyusun progam  Interpretasi dan implementasi  Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi. B. Saran 1. Meskipun makalah yang telah kami rampung dan siap disajikan sudah terselesaikan, namun makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan banyak terdapat kesalahan. Dari itu kami penyusun mengharap kritik dan saran dari pembaca. 2. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat kepada pembaca serta memberi motivasi dan pemikiran yang bernilai positif, Amiin.

Monday, 8 October 2018

Makalah Tentang Hadits

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia berbudaya.Budaya dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir,bertingkah laku sampai produk-produk berpikir manusia yang berwujud dalam bentuk benda (materil)maupun dalam bentuk sistem nilai (in- materil). Pergaulan antar umat di dunia yang semakin intensif harus di dasari oleh dasar hokum agama, dan kemaslahatan umat bernegara tanpa melanggar syari’at agama islam akan melahirkan prinsip kemanusiaan yang sangat tentram, penerimaan perbedaan pandangan dalam keagamaan oleh salah satu pihak haruslah di dasari oleh pendidikan yang positif. Untuk menghindari hal-hal negatif dari suatu perbedaan, diperlukan berbagai upaya untuk mengadakan saringan perbedaan yang dianggap paling tepat untuk diterapkan . Oleh karena , pemahaman terhadap kebudayaan islam menjadi penting bagi seorang pendidik agar pendidik memahami secara persis kebudayaan dan pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat. Hadits merupakan salah satu pedoman kita sebagai umat islam, maka dari itu perlu kiranya umat islam mengetahui hadits yang harus di pakai dan hadits yang tidak boleh di pakai dalam aturan main individu atau masyarakat agar kita tidak sembarang menghakimi maupun menghukumi seseorang. B. RUMUSAN MASALAH Makalah ini membahas sekelumit mengenai manusia, nilai, moral, dan hukum yang mencakup hal-hal berikut; A. Pengertian dan syarat hadits shahih dan hadits hasan B. Pengertian hadits dha’if dan pembagiannya C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui pengertian dan syarat dari hadits shahih dan hadits hasan 2. Untuk mengetahui hadits dha’if dan pembagiannya BAB II PEMBAHASAN Pengertian Hadits 1. Definisi Hadits الْحَدِيْثُ مَا جَاءَ عنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ سَوَاءً كَانَ قَوْلاً أَوْ فِعْلاً أَوْ تَقْرِيْرًا أَوْ صِفَةً Hadis adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, ataupun sifat. Contah-contoh Contoh hadis qouly (perkataan) إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ Sesungguhnya setiap amal itu dengan niat Contoh hadis fi’ly (perbuatan) adalah hadis dari Aisyah ra. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ Nabi saw apabila akan tidur, sedangkan beliau dalam keadaan junub maka beliau berwudlu seperti wudlu untuk shalat Contoh hadis taqriry (persetujuan) adalah hadis dari Ibnu Abbas ra, أَنَّ خَالَتَهُ أَهْدَتْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمْناً وَأَضْبًا وَأَقْطاً فَأَكَلَ مِنَ السَّمْنِ وَ مِنَ الْأَقْطِ وَتَرَكَ الْأَضْبَ تَقَذُّرًا وَأُكِلَ عَ لَى مَائِدَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ وَلَوْ كَانَ حَرَاماً مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Bahwa bibinya memberi hadiah kepada Rasulullah saw berupa mentega, daging biawak dan keju, lalu beliau memakan mentega dan keju dengan meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, tetapi daging itu dimakan di meja makan rasulullah saw, seandainya haram maka tak akan dimakan di meja Rasulullah saw Contoh hadis sifat, yaitu hadis yang memuat sifat pribadi nabi saw, adalah hadis dari Anas ra; كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ حَسَنُ الْجِسْمِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلاَ سَبْطٍ أَسْمَرُ اللَّوْنِ إِذَا مَشَى يَتَكَفَّأُ Rasulullah itu tingginya sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, tubuhnya bagus, rambutnya tidak keriting dan tidak lurus, warnanya coklat, apabila berjalan rambutnya bergoyang. 2. Definisi Hadis Shahih هُوَ الْمُسْنَدُ ٬ الْمُتَّصِلُ إِسْنَادُهُ ٬ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ٬ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ ٬ مِنْ غَي رِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ Hadis sahih adalah hadis yang musnad, bersambung sanadnya, dengan penukilan seorang yang adil dan dlabith dari orang yang adil dan dlabith sampai akhir sanad, tanpa ada keganjilan dan cacat. Untuk memudahkan memahami definisi tersebut, dapat dikatakan, bahwa hadis sahih adalah hadis yang mengandung syarat-syarat berikut; 1. Hadisnya musnad 2. Sanadnya bersambung 3. Para rawi (periwayat)nya adil dan dlabith 4. Tidak ada syadz (keganjilan) 5. Tidak ada ilah (cacat) Penjelasan Definisi o Musnad, maksudnya hadis tersebut dinisbahkan kepada nabi saw dengan disertai sanad. Tentang definisi sanad telah disebutkan di depan. o Sanadnya bersambung, bahwa setiap (periwayat) dalam sanad mendengar hadis itu secara langsung dari gurunya o Para rawinya adil dan dhabith, yaitu setiap periwayat di dalam sanad itu memiliki sifat adil dan dhabith. Apa yang dimaksud dengan adil dan dhabith? o Adil adalah sifat yang membawa seseorang untuk memegang teguh taqwa dan kehormatan diri, serta menjauhi perbuatan buruk, seperti syirik, kefasikan dan bid’ah. o Dlabith (akurasi), adalah kemampuan seorang rawi untuk menghafal hadis dari gurunya, sehingga apabila ia mengajarkan hadis dari gurunya itu, ia akan mengajarkannya dalam bentuk sebagaimana yang telah dia dengar dari gurunya o Tidak ada syadz. Syadz secara bahasa berarti yang tersendiri, secara istilah berarti hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat bertentangan dengan hadis dari periwayat lain yang lebih kuat darinya o Tidak ada illah, Di dalam hadis tidak terdapat cacat tersembunyi yang merusak kesahihan hadis. Tentang hadis mu’allal (cacat) juga akan dibahas dalam bagian tersendiri. Contoh Hadis Sahih Hadis yang diriwayatkan oleh alBukhari di dalam kitab Shahihnya j.4 h.18, kitab aljihad wa assiyar, bab ma ya’udzu min aljubni; حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ ٬ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ ٬ قَا لَ: سَمِعْتُ أَبِي قَال : سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِي اللَّه عَنْهم ٬ قَال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ ٬ وَالْكَسَلِ ٬ وَالْجُبْنِ ٬ وَالْهَرَمِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata; Aku mendengar ayahku berkata; Aku mendengar Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw berdo’a ; Ya Allah,aku memohon kepadaMu perlindungan dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut dan dari kepikunan, dan aku memohon kepadaMu perlindungan dari fitnah (ujian) di masa hidup dan mati, dan memohon kepadaMu perlindungan dari adzab di neraka Hadis tersebut di atas telah memenuhi persyaratan sebagai hadis sahih,karena. 1. Ada sanadnya hingga kepada Rasulullah saw. 2. Ada persambungan sanad dari awal sanad hingga akhirnya. Anas bin Malik adalah seorang shahabat, telah mendengarkan hadis dari nabi saw. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), telah menyatakan menerima hadis dengan cara mendengar dari Anas. Mu’tamir, menyatakan menerima hadis dengan mendengar dari ayahnya. Demikian juga guru alBukhari yang bernama Musaddad, ia menyatakan telah mendengar dari Mu’tamir, dan Bukhari rahimahullah juga menyatakan telah mendengar hadis ini dari gurunya. 3. Terpenuhi keadilan dan kedhabitan dalam para periwayat di dalam sanad, mulai dari shahabat, yaitu Anas bin Malik ra hingga kepada orang yang mengeluarkan hadis, yatu Imam Bukhari a) Anas bin Malik ra, beliau termasuk salah seorang shahabat Nabi saw, dan semua shahabat dinilai adil. b) Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), dia siqah abid (terpercaya lagi ahli ibadah). c) Mu’tamir, dia siqah d) Musaddad bin Masruhad, dia siqah hafid. e) AlBukhari–penulis kitab asShahih, namanya adalah Muhammad bin Isma’il alBukhari, dia dinilai sebagai jabal alhifdzi (gunungnya hafalan), dan amirul mu’minin fil hadis. 4. Hadis ini tidak syadz (bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat) 5. Hadis ini tidak ada illahnya Dengan demikian jelaslah bahwa hadis tersebut telah memenuhi syarat syarat hadis sahih, Karena itulah Imam Bukhari menampilkan hadis ini di dalam kitab as-shahih 3. Definisi hadits hasan مَا اسْتَوْفَى شُرُوْطُ الصِّحَّةِ إِلاَّ أَنَّ أَحَدَ رُوَاتِهِ أَوْ بَعْضَهُمْ دُوْنَ رَاوِي الصَّحِيْحِ فِي الضَّبْطِ بِمَا لاَ يَخْرِجُهُ عَنْ حَيِّزِ اْلإِحْتِجَاجِ بِحَدِيْثِهِ Adalah hadis yang memenuhi syarat sebagai hadis sahih , hanya saja kualitas dhabth (keakuratan) salah seorang atau beberapa orang rawinya berada di bawah kualitas rawi hadis sahih, tetapi hal itu tidak sampai mengeluarkan hadis tersebut dari wilayah kebolehan berhujjah dengannya. Hadis seperti ini disebut hasan lidzatihi Penjelasan Definisi Hadis yang memenuhi syarat sebagai hadis sahih. Dalam hal ini syarat hadis sahih adalah; 1. Adanya sanad sampai kepada Rasulullah saw. 2. Persambungan sanad sampai kepada Rasulullah saw. 3. Tiadanya syadz (keganjilan) 4. Tiadanya illah (cacat tersembunyi) Sedangkan syarat dlabth menjadi titik pembeda antara keduanya. Rawi hadis hasan tingkat dlabthnya berada di bawah kualitas rawi hadis sahih. Periwayat hadis hasan biasanya disebut dengan istilah, shaduq (jujur), laa ba’sa bih (tidak apaapa), siqah yukhthi’ (terpercaya tetapi banyak kesalahan), atau shaduq lau awham (jujur tetapi diragukan) Contoh hadis hasan; Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu alQuththan di dalam Ziyadah ‘ala Sunan Ibni Majah (2744) يَحْيَ بْنُ سَعِيْدٍ ٬ عَنْ عَمْرو بْنِ شُعَيْبٍ ٬ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ ٬ قَا لَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفْرٌ بِامْرِئٍ ادَّعَا نَسَبَ لاَ يَعْرِفُهُ ٬ أَوْ جَحَّدَهُ ٬ وَإِنْ دَق ٬ وَسَنَدُهُ حَسَنٌ Yahya bin Sa’id, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata; Rasulullah saw bersabda; “kafirlah orang yang mengaku aku nasab orang yang tidak diketahuinya, atau menolak nasab (yang sebenarnya), meskipun samar” Hadis ini sanadnya hasan. Di dalam sanad hadis ini terdapat Amr bin Syu’aib bin Muhammad, bin Abdullah bin Amr bin alAsh. alHafidz Ibnu Hajar di dalam kitab atTaqrib (2/72) mengatakan, bahwa ia adalah shaduq. Hadits Dha’if 1. Definisi hadits dha’if مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَاتُ الْقُبُوْلِ بِفَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوْطِهِ Apabila tidak terkumpul sifatsifat (yang menjadikannya dapat) diterima (shahih), karena hilangnya salah satu dari syaratsyarat (hadis sahih) Penjelasan Definisi Tidak terkumpul sifatsifat yang menjadikannya dapat diterima; syarat diterima suatu hadis, sebaimana yang telah dibahas, antara lain; 1. Memiliki sanad hingga kepada Nabi saw 2. Sanadnya bersambung 3. Rawinya ‘adil dan dlabith 4. Tidak mengandung syadz 5. Tidak ada illah Hilangnya salah satu syarat diterimanya hadis; Apabila hilang syarat yang pertama, maka hadis itu tidak bisa dinisbahkan kepada nabi saw, melainkan disandarkan kepada shahabat, tabi’in atau tabi’ tabi’in, sesuai dengan nama yang tercantum di dalam sanad tersebut. Apabila tidak terpenuhi syarat kedua, maka hadis itu dinamakan mursal. Apabila tidak terpenuhi bagian pertama dari syarat yang ketiga, yaitu sifat ‘adil, maka hadis itu termasuk matruk atau maudlu’, dan jika tidak ada syarat ketiga bagian yang kedua yaitu dlabth maka hadis tersebut disebut dla’if, matruk, atau bahkan maudlu’ yang disebabkan oleh kelemahan rawi. Apabila hilang syarat yang keempat, maka hadis itu dinamakan syadz atau matruk Dan apabila tidak memenuhi syarat yang kelima, maka hadis itu dinamakan mu’allal. 2. Pembagian Hadis Dla’if. Hadis dla’if menurut derajat kedla’ifannya dapat dibagi menjadi dua bagian; a. Hadis yang kedla’ifannya ringan, tidak berat, dimana apabila didukung dengan hadis yang setingkat dengannya akan hilang dla’ifnya, dan meningkat menjadi hasan lighairihi. Seperti karena rawinya adalah seorang yang dla’if yang masih ditulis hadisnya, tetapi tidak bisa menjadi argumen apabila hanya diriwayatkannya seorang diri, atau karena di dalam sanadnya terdapat inqitha’(keterputusan) karena mursal, atau tadlis. b. Apabila tingkat kedla’ifannya berat, maka tak ada artinya banyaknya tabi’ (pendukung), yaitu apabila rawinya pendusta atau tertuduh pendusta, matruk karena buruknya hafalan atau karena banyaknya kesalahan, atau majhul ‘ain yang tak diketahui sama sekali identitasnya. Contoh Hadis Dla’if berat, dengan sebab kedla’ifan dalam hal ‘adalah (keadilan) adalah; Hadis yang dikeluarkan oleh alKhathib alBaghdadi di dalam Iqtidla’ alIlmi al‘Amali (69) dengan jalan; عَنْ أَبِي دَاوُدَ النَّخَعِي ٬ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ الْغَطْفَانِي ٬ عَنْ سَلِيْكٍ ٬ قَال : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَ لَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْل : إِذَا عَلِمَ الْعَالِمُ وَلَمْ يَعْمَلْ ٬ كَانَ كَالْمِصْبَاحِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ ٬ وَيَحْرُقُ نَفْسَهُ Dari Abu Dawud anNakha’i,telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Ubaidilah alGhathfani, dari Salik, ia berkata; Aku mendengar Nabi saw bersabda; Apabila seorang berilmu mengetahui tetapi tidak mengamalkan,maka ia seperti lampu yang menyinari orang lain tetapi membakar dirinya sendiri Di dalam sanad ini, nama Abu Dawud anNakha’iy adalah Sulaiman bin Amr. Tentang rijal ini Imam Ahmad berkata, “Dia pernah memalsukan hadis”. Ibnu Ma’in berkata, “Dia orang yang paling dusta”. Murrah berkata, “Dia dikenal telah memalsukan hadis”. AlBukhari berkata, “Dia ditinggalkan hadisnya, Qutaibah dan Ishaq menuduhnya sebagai pendusta”. Dengan demikian hadis tersebut melalui sanad ini adalah maudlu’, karena kedla’ifan periwayatnya dalam hal ‘adalah (keadilannya). Contoh hadis Dla’if berat yang disebabkan oleh kelemahan rawinya dalam dlabth, yaitu hadis yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Hilyatu alAuliya’ (8/252) ; عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ خُبَيْقٍ ٬ حَدَّثَنَا يُوْسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ ٬ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ الْعُرْزُمِيّ ٬ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سَلِيْمٍ ٬ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ ٬ قَال : كَانَ رَسُوْلُ ا لله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ الْكَيَّ وَالطَّعَامَ الْحَارَّ ٬ وَيَقُوْل : عَلَيْكُمْ بِالْبَارِدِ ٬ فَإِنَّهُ ذُوْ بَرَكَةٍ ٬ أَلاَ وَإِنَّ الْحَارَّ لاَ بَرَكَةَ فِيْهِ Dari Abdillah bin Khubaiq, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Asbath, dari Muhammad bin ‘Ubaidillah alUrmuzi, dari Shofwan bin Salim, dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah saw membenci cos dan makanan panas, dan beliau bersabda; Hendaklah kalian (memakan makanan) yang dingin, karena padanya terdapat berkah. Ketahuilah bahwa(makanan) yang panas tidak ada berkahnya. Di dalam sanad hadis ini, Muhammad bin Ubaidullah al‘ Urzumiy adalah rijal yang matruk (ditinggalkan hadisnya) karena buruk hafalannya. Pada mulanya ia adalah seorang yang shalih tetapi kemudian kitabnya hilang, sehingga dia mengajarkan hadis dari hafalannya. Dari itulah ia mengajarkan hadis tidak seperti yang tidak diajarkan oleh orang-orang yang siqah, sehingga ahli hadis meninggalkan hadisnya.

Metode Dakwah

Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 BAB I 3 PENDAHULUAN 3 A. Latar Belakang Masalah 3 B. Pembatasan Masalah 3 C. Rumusan Masalah 4 D. Tujuan Penulis...