About

Saturday, 3 November 2018

Problem Based Learning

PEMBAHASAN 1. Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah) A. Pengertian Problem Based Learning (Pembelajran Berbasis Masalah) Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran, yang mana siswa sejak awal dihadapkan pada suatu masalah, kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student centered. Didalam PBL, dikenal adanya conceptual fog yang bersifat umum, mencakup kombinasi antara metode pendidikan dan filosofi kurikulum. Pada aspek filosofi, PBL dipusatkan pada siswa yang dihadapkan pada suatu masalah. Sementara pada subject based learning guru menyampaikan pengetahuannya kepada siswa sebelum menggunakan masalah untuk memberi ilustrasi pengetahuan tadi. Pembelajaran dengan PBL memberikan kesempatan kepada siswa mempelajari materi akademis dan keterampilan mengatasi masalah dengan terlibat di berbagai situasi kehidupan nyata. Ini memberikan makna bahwa sebagian besar konsep atau generalisasi dapat diperkenalkan dengan efektif melalui pemberian masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pembelajaran proses berfikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, model pembelajaran ini harus juga disesuaikan dengan tingkat struktur kognitif siswa. Pada dasarnya, PBL dikembangkan untuk membanu siswa guna memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. Pada umumnya, PBL dipahami sebagai suatu strategi intruksional, yang mana siswa mengidentifikasi pokok bahasan yang terdapat di dalam masalah yang spesifik. Pokok bahasan tersebut menbantu dan mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep yang mendasari masalah tadi serta prinsip pengetahuan lainnya yang relevan. Fokus bahasan biasanya berupa masalah (tertulis) yang meliputi fenomena yang memerlukan penjelasan. Kegiatan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru melalui pembahasan masalah tadi dikenal sebagai problem first learning. Di dalam PBL, guru tidak lagi berdiri di depan kelas sebagai ahli dan satu-satunya sumber yang siap untuk memberikan pelajaran. Guru dalam kelas PBL berfungsi sebagai fasilitator yang kadang disebut tutor karena proses diskusi kelompok disebut tutorial. Peran dan tanggung jawab tutor dalam PBL sangat beragam. Di dalam PBL, tutor memberi fasilitas dan mengaktifkan kelompok untuk memastikan bahwa siswa mencapai kemajuan secara bermakna melalui pembahasan masalah yang tersaji. Pembelajaran dengan pendekatan masalah (PBL) ini sejalan dengan teori belajar menurut ilmu jiwa Gestalt, bahwa manusia adalah organisme yang aktif berusaha mencapai tujuan. Menurut aliran ini seorang belajar jika ia mendapat insight. Insight tersenut diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam sebuah situasi sehingga hubungannya menjadi jelas baginya dan dengan demikian memecahkan masalah. Sementara itu timbulnya insight tergantung pada kesanggupan, kematangan, dan intelegensi individu; pengalaman, sifat atau taraf kompleksitas situasi, latihan dan trial and error. Dengan demikian, dalam belajar manusia beraksi terhadap lingkungan secara keseluruhan tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial, dan sebagainya. Pembelajaran juga merupakan proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Selanjutnya, pembelajaran hanya berhasil bila tercapai kematangan insight. PBL mengandung pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. Pembelajaran kolaboratif pada hakikatnya merupakan pengalaman filosofis pribadi. Di dalam diskusi, tiap-tiap individu berperan aktif, saling memberi kontribusi, saling menerima pendapat kawan dengan prasangka baik, saling menghargai kemampuan orang lain. Dalam pembelajaran kelompok (kooperatif), kelompok yang efektif akan menghasilkan pengetahuan baru dengan mutu yang lebih baik, kontektual dan relevan bila dibandingkan dengan pembelajaran individual. Pernyatan-pernyataan mengindikasikan bahwa PBL merupakan salah satu model pembelajaran. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan berikut unlike conventional, PBL take an integrated approach to learning based on the requirements of the problem as perceived by the learners. Makna yang tersirat dalam pernyataan diata kurang lebih sebagai berikut, tidak seperti belajaer secara konvensional, PBL menggnakan terintegrasi dalam belajar yang mensyaratkan adanya masalah yang dapat dirasakan oleh pembelajar. B. Ciri-Ciri Khusus Pembelajaran Berdasarkan Masalah Menurut Arends model PBL memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Pengajuan Pertanyaan atau Masalah Bukannya mengorganisaikan di sekitar prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengjaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secra sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. 2. Berfokus pada Keterkaitan Antardisiplin Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial), masalah yang aka diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah dari banyak mata pelajaran. 3. Penyelidikan Auntentik Pembelajaran berdasarkan masalah mengaharuskan siswa melakukan penyelidikan anutentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. 4. Menghasilkan Produk dan Memamerkannya Pembelajaran berdasrkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tetentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. 5. Kolaborasi Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja satu dengan yang lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. C. Langkah-Langkah Pembelajaran Berdasarkan Masalah Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada 8 tahapan, antara lain. 1. Mengidentifikasi masalah 2. Mengumpulkan data 3. Menganalisis data 4. Memecahkan masalah berdasarkan data yang ada dan analisisnya 5. Memilih cara untuk memecahkan masalah 6. Merencanakan penerapan pemecahan masalah 7. Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan 8. Melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. D. Nilai-Nilai Karakter dalam Problem Based Learning 1. Tanggung Jawab Mengingat asumsi dasar dibangunnya problem based learning adalah menyelesaikan masalah, sedangkan orang yang mempunyai komitmen tinggi untuk menyelesaikan masalah adalah orang yang bertanggung jawab, maka nilai karakter inti dalam problem based learning adalah tanggung jawab. Orang yang mempunyai jiwa tanggung jawab tinggi adalah orang yang mempunyai kepekaan masalah yang tinggi, sehingga ia mempunyai panggilan jiwa untuk menyelesaikannya. 2. Kerja Keras Untuk dapat menyelesaikan masalah, diperlukan kerja keras yang luar biasa. Terlebih lagi penyelesaian masalah secara baik dan elegan, tentunya membutuhkan energi ekstra, baik secara emosional maupun intelektual untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, strategi pembelajaran problem based learning ini secara alamiah menanamkan nilai karakter berupa kerja keras. 3. Toleransi dan Demokratis Penyelesaian masalah yang dikehendaki dalam strategi pembelajaran problem based learning adalah penyelesaian masalah yang bersifat terbuka, dapat ditoleransi dan bersifat demokratis. Artinya, tidak ada penyelesaian masalah yang bersifat tunggal dan paling benar atau paling baik. Bahkan guru juga tidak boleh menentukan cara penyelesaian tersendiri, sehingga peserta didik mempunyai hak otonomi secara penuh untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. 4. Mandiri Setiap peserta didik mempunyai permasalahan yang berbeda-beda seinga memerlukan cara pemecahan yang berbeda pula. Bahkan jika masalahnya sama, setiap peserta didik masih tetap boleh menyelesaikannya dengan cara yang berbeda pula. Artinya, peseta didik harus bersikap mandiri dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, khususnya masalah yang bersifat intrapersonal, seperti mengusi rasa malas, memotivasi diri, mengerjakan tugas individu,dan sebagainya. 5. Kepedulian Lingkungan dan Sosial Keagamaan Selain setiap peserta didik menghadapi masalah-masalah individu yang berbeda-beda, tidak menutup kemungkinan ia juga menghadapi masalah-masalah sosial keagamaan di lingkungan sekolahnya. Dalam hal ini, penyelesaian atas masalah tersebut tidak boleh lagi dihadapi secara mandiri, tetapi harus berkelompok atau bekerja sama denganteman sejawatnya, termasuk dalam hal ini adalah melibatkan kepala sekolah, osi, guru bimbingan dan konseling serta guru agama. 6. Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanh Air Topik-topik pembelajaran dari semua mata pelajaran sering kali membahas tema-tema besar kebangsaan. Konsekuensinya, guru harus menyajikan masalah-masalah kenegaraan atau kebangsaan, seperti dekadensi moral bangsa, korupsi, krisis ekonomi, dan sebagainya. Upaya menyelesaikan persoalan-persoalan ini dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme. Peserta didik yang memounyai karakter seperti ini tidak akan mudah tergiur oleh gaji bekerja di luar negeri walaupun nilainya 100 kali lipat lebih besar dari pada bekerja di negeri sendiri. Ia lebih memilih bekerja membangun negeri sendiri walaupun dengan gaji yang pas-pasan. Semangat kebagsaan, cinta tanah air dan jiwa nasionalisme ini perlu ditanamkan dalam jiwa peserta didik agar tidak pergi ke luar negeri (membangun negeri orang lain) setelah menjadi cerdas nanti. E. Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Berdasarkan karakter tersebut, pembelajaran berdasarkan masalah memiliki bertujuan: 1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah. 2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik 3. Menjadi pembelajar yang mandiri. a. Keterampilan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah kamental seperti penalaran. Tetapi berfikir juga diartikan sebagai kemampuan untuk menganalisis, mengkritik dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. PBL memberikan dorongan kepada pesrta didik untuk tidak hanya sekedar berfikir sesuai yang bersifat konkret, tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks. Dengan kata lain PBL melatih kepada peserta didik untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinngi. b. Belajar Peranan Orang Dewasa yang Autentik Model pembelajaran berdasrkan masalah amat penting untuk menjembatani gap antara pembelajaran di sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. c. Menjadi Pembelajar yang Mandiri PBL membantu siswa menjadi pembelajaran yang mandiri dan otonom. F. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran, objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. G. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Berdasarkan Masalah 1. Keunggulan Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, di antaranya: a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun preoses belajarnya. f. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa. g. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. h. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. i. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. j. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya) pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja. 2. Kelemahan Di samping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan di antaranya: a. Manakala siswa tidak memiliki minat tinggi atau tidak mempunyai kepercayaan diri bahwa dirinya mampu menyelesikan masalah yang dipelajari, maka mereka cenderung enggan untuk mencoba karena takut salah. b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem based learning membutuhkan waktu yang lebih lama atau panjang. Itu pun belum cukup, karena sering kali peserta didik masih memerlukan waktu tambahan untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan. Padahal, waktu pelaksanaan PBL harus disesuaikan dengan beban kurikulum yang ada c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari. Artinya, perlu dijelaskan manfaat menyelesaikan masalah yang dibahas pada peserta didik. H. Pembelajaran Berbasis Masalah Struktur pembelajaran biasanya digambarkan dalam sebuah bentuk formulasi berikut: 1. Menemukan masalah > Analisi masalah > Penemuan dan Pelaporan > Integrasi dan Evaluasi 2. Menemuka masalah > Inquiry masalah > Mengankat Isu Belajar > Penemuan dan Peer Teaching > Menyajikan Solusi > Review 3. Menemukan Masalah > Analisis > Penelitian dan Kerja Lapangan > Pelaporan dan Perr Teaching > Menyajikan Temuan > Refleksi dan Evaluasi. 2. Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek) A. Pengertian Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek) pembelajaran berbasis proyek (project based learning) merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk me ngelola pembelajaran di kelas dengan kerja proyek. Melalui pembelajaran berbasis proyek, proses Inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai materi dalam kurikulum pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta ddidik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Pembelajaran berbasis proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali materi dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya serta melakukan eksperimen secra kolaboratif. “ kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleksberdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang, dan menuntut siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara mandiri. Tujuannya adalah agar siswa mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya. B. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang inovatif dan lebih menekankan pada belajar kontekstual melalui kegiatn-kegiatan yang kompleks. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Sedangkan menurut Back Institute for Education belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut: a. Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja b. Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya c. Siswa merancang proses untuk mencapai hasil d. Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan e. Siswa melakukan evaluasi secara kontinu f. Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan g. Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya h. Kelas memiliki atmosfir yanng memberi toleransi kesalahan dan perubahan. C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek Sebagai sebuah model pembelajaran, pembelajaran berbasis proyek mempunyai berbagi prinsip, yaitu: 1. Prinsip Sentralistis Prinsip ini menegaskan bahwa kerja proyek merupakan esensi dari kurikulum. Model ini merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek. 2. Prinsip Pertanyaan Pendorong Prinsip ini menegaskan bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan” yang dapat mendorong siswa untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu. 3. Prinsip investigasi konstuktif Prinsip investigasi konstruktif merupakan proses yang mengarah kepada pencapaian tujuan, yang mengandung kegiatan inquiry, pembangunan konsep dan resolusi. 4. Prinsip Otonomi Prinsip otonomi dalam pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal supervisi dan bertanggung jawab. 5. Prinsip Realistis Prinsip realistis berarti bahwa proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti di sekolah. D. Pedoman Pembimbingan Pembelajaran Berbasis Proyek Dalam membimbing siswa dalam pembelajaran berbasis proyek ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pijakan tindakan. Adapun pedoman pembimbingan tersebut antara lain: 1. Keauntentikan Keauntentikan dapat dilakukan dengan beberapa strategi, yaitu dengan mendorong dan membimbing siswa untuk memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan, merancang tugas siswa sesuai dengan kemampuannya sehingga ia mampu menyelesaikannya tepat waktu, dan mendorong serta membimbing siswa agar mampu menghasilkan sesuatu dari tugas yang dikerjakannya. 2. Ketaatan terhadap nilai-nilai akademik Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi yaitu dengan mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan dalam menyelesaikan tugas yang dikerjakan, merancang dan mengembangkan tugas-tugas yang dapat memberi tantangan pada siswa untuk menggunakan berbagai metode dalam pemecahan masalah serta mendorond dan membimbing siswa untuk mampu berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah. 3. Belajar pada dunia nyata Hai ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut, yaitu mendorong dan membimbing siswa untuk mampu bekerja pada konteks permasalahan yang nyata yang ada di masyarakat, mendorong dan mengarahkan agar siswa mampu bekerja dalam situasi organisasi yang menggunakan teknologi tinggi, dan mendorong serta mengarahkan siswa agar mampu mengelola kemampuan keterampilan pribadinya. 4. Aktif Meneliti Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya, mendoronh dan mengarahkan siswa untuk melakukan penelitian dengan berbagai macam metode, serta mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik melalui presentasi ataupun media lain. 5. Hubungan dengan ahli Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa untuk mampu belajar dari orang lain yang memiliki pengetahuan yang relevan, mendorong dan mengarahkan siswa berdiskusi dengan orang lain dalam memecahkan masalah, serta mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak untuk terlihat dalam menilai unjuk kerjanya. 6. Penilaian Hal ini dapat didakukan dengan beberapa strategi yaitu mendorong dan mengarahkan siswa agar mamapu melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya dalam mengerjakan tugasnya, mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk terlibat mengembangkan standar kerja yang terkait dengan tugasnya serta mendorong dan mengarahkan siswa untuk menilai kerjanya. E. Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek Menurut Moursound (1997) beberapa keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek antara lain: 1. Meningkatkan motivasi belajar siswa. 2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, membuat siswa lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang bersifat kompleks. 3. Keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi akan meningkat. 4. Siswa mampu kerja kelompok dalam proyek dan mempraktikkan keterampiak komunikasi. 5. Siswa mampu mempraktikkan keterampilan dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Menurut The Back Institute For Education, model pembelajaran inimempunyai keuntungan penting bagi siswa masa kini, antara lain: a) Model pembelajaran berbasis proyek mengintegrasikan wilayah hidup kurikulum. b) Membangun pengembangan kebiasaan berfikir yang dihubungkan dengan belajar seumur hidup, tanggung jawab sipil, dan kesuksesan karir atau pribadi. c) Menguasai dikotomi atau pengetahuan dan berfikir dapat menolong siswa baik untuk “to know” maupun “to do”. d) Mendorong munculnya tanggung jawab, penetapan tujuan dan memperbaiki tampilan. e) Dapat melibatkan memotivasi siswa yang bosan dan tidak peduli. f) Mendukung siswa dalam belajar dan mempraktikkan keterampilan dalam penyelesaian masalah, komunikasi dan pengendalian diri. g) Menciptakan komunikasi positif dan hubungan kolaboratif diantara kelompok siswa yang berbeda-beda. h) Dapat memenuhi kebutuhan siswa dengan tingkat keterampilan dan gaya belajar yang beragam. Selain keuntungan, pembelajaran berbasis proyek juga memiliki kelemahan, diantaranya: 1. Memerlukan banyak waktu untuk meyelesaikan masalah. 2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak. 3. Banyak instrukur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas. 4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. 5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. 6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. 7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.

Monday, 29 October 2018

Discovery Learning

PEMBAHASAN A. Pengertian Model Pembelajaran penemuan (Discovery Learning) Teknik Penemuan adalah terjemahan dari Discovery, menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antar lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Pembelajaran dengan penemuan (discovery learning) merupakan suatu komponen penting dalam pendekatan konstruktivis yang telah memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Ide pembelajaran penemuan (discovery learning) muncul dari keinginan untuk memberi rasa senang kepada anak/ siswa dalam “menemukan” sesuatu oleh mereka sendiri dengan mengikuti jejak ilmuan Beberapa pengertian model pembelajaran penemuan menurut beberapa tokoh yang diantaranya: Menurut Gulo, Pendekatan pengajaran discovery adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Menurut Wilcox, mengatakan bahwa dalam pembelajaran penemuan siswa didorong untuk belajar aktif melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan kosep- konsep, prinsip- prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan untuk memungkinkan mereka menemukan prinsip- prinsip untuk diri mereka sendiri. Menurut Carin, sebagaimana dikutip oleh Amien menyatakan bahwa inkuiri pada dasarnya adalah proses mental yang membawa siswa atau individu mengasimilasikan konsep dan prinsip. Menurut Amien, kegiatan inkuiri merupakan suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Menurutnya pula, kegiatan inkuiri dibentuk dan meliputi kegiatan discovery (Penemuan). Dengan demikian Penemuan menunjukkan kegiatan inkuiri. Menurut Amien dan Roestiyah, Inkuiri ialah suatau perluasan proses discovery. Inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalkan merumuskan masalah, merancang eksprimen, melakukan eksprimen, mengumpulkan dan menganalis data, menarik kesimpulan, menumbuhkan sifat objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya. Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam). Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Melalui pembelajaran penemuan, diharapkan siswa terlibat dalam penyelidikan suatu hubungan, mengumpulkan data, dan menggunakannya untuk menemukan hukum atau prinsip yang berlaku pada kejadian tersebut, dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh siswa, dengan sendirinya akan memberi hasil yang lebih baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar- benar bermakna. Pembelajaran penemuan mempunyai kaitan intelektual yang jelas dengan pembelajaran berdasarkan masalah. Pada kedua model ini, guru menekan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekan daripada deduktif, dan siswa diberikan ide- ide atau teori tentang dunia. Pada pembelajaran penemuan, Guru memberi pertanyaan atau mengungkapkan dilema yang membutuhkan pemecahan-pemecahan, menyediakan materi-materi yang sesuai dan menarik, serta meningkatkan kemampuan siswa untuk mengemukakan dan menguji hipotesis Serta memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri. Jadi peran peserta didik dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Dengan demikian strategi discovery bahan pelajarannya dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. B. Macam- Macam Metode penemuan (Discovery Learning) 1. Discovery terpimpin, yaitu pelaksanaan discovery dilakukan atas petunjuk dari guru. Keduanya, dimulai dari pertanyaan inti, guru mengajukan berbagai pertanyaan yang melacak memberikan kesempatan kepada kelas untuk melakukan refleksi, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik ke titik kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya, siswa melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang dikemukakan. 2. Discovery bebas,yaitu peserta didik melakuakan penyelidikan bebas sebagaimana seorang ilmuan, antara lain masalah dirumuskan sendiri, penyelidikan dilakukan sendiri, dan kesimpulan diperoleh sendiri. 3. Discovery bebas yang dimodifikasi, yaitu masalah diajukan guru didasarkan teori yang sudah dipahami peserta didik. Tujuannya untuk melakukan penyelidikan dalam rangka membuktikan kebenarannya. 4. Sistem dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa melakukan Discovery, sedangkan guru membimbing mereka kearah yang tepat/benar. Gaya pengajaran demikian, oleh Gagne disebut Guide Discovery, sekalipun didalam kelas yang terdiri dari 20 sampai 30 orang siswa. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar melakukan Discovery, sedangkan yang lainnya berpartisipasi dalam proses Discovery misalnya dalam sistem ceramah reflektif. Dalam kelompok yang lebih kecil, guru dapat melibatkan hampir semua siswa dalam proses itu. Dalam sistem ini, guru perlu memiliki keterampilan memberikan bimbingan, yakni mendiagnosis kesulitan-kesulitan siswa dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Namun demikian, tidak berarti guru menggunakan metode ceramah reflektif sebagai mana halnya pada strategi diatas. Dengan demikian, dalam strategi ini pembelajaran ini peserta didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal, sebaliknya peserta didik akan dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Strategi pembelajaran ini merupakan bentuk dari pendekatan pelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (Student Centered Approch). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini peserta didik memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. C. Fungsi Metode penemuan (Discovery Learning) Ada beberapa fungsi metode discovery yaitu sebagai berikut. 1. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan 2. Membangun sikap aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. 3. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan. 4. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan. 5. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain. 6. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru. D. Langkah- Langkah penemuan (Discovery Learning) Belajar penemuan dapat juga disebut “proses pengalaman”. Langkah- langkah belajar proses pengalaman, adalah: 1. Tindakan dalam instansi tertentu. Siswa melakukan tindakan dan mengamati pengaruh- pengaruhnya. Pengaruh- pengaruh tersebut mungkin sebagai ganjaran atau hukuman, atau mungkin memberikan keterangan mengenai hubungan sebab akibat. 2. Pemahaman kasus tertentu. Apabila keadaan yang sama muncul kembali, maka dia dapat mengantisipasi pengaruh yang bakal terjadi, dan konsekuensi- konsekuensi apa yang akan terasakan. 3. Generalisasi. Siswa membuat kesimpulan atas prinsip- prinsip umum berdasarkan pemahaman terhadap instansi tersebut. 4. Tindakan dakam suasana baru. Siswa menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya. Pendekatan pembelajaran penemuan dikembangkan menjadi Discovery/ inquiry, Langkah- langkah pokok strategi ini ialah: 1. Menyajikan kesempatan- kesempatan kepada siwa untuk melakukan tindakan/ perbuatan dan mengamati konsekuensi dari tindakan tersebut 2. Menguji pemahaman siswa mengenai hubungan sebab akibat dengan cara mempertanyakan atau mengamati reaksi- reaksi siswa, selanjutnya menyajikan kesempatan- kesempatan lainnya. 3. Mempertanyakan atau mengamati kegiatan selanjutnya, serta menguji susunan prinsip umum yang mendasari masalah yang disajikan itu. 4. Penyajian berbagai kesempatan baru guna menerapkan hal yang baru saja dipelajari kedalam situasi atau masalah- masalah yang nyata. Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini: 1. Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif; 2. Dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa; 3. Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; 4. Dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; 5. Siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata. E. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) 1. Kelebihan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Dr. J, Richard dan asistennya mencoba self- learning siswa (belajar sendiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning , ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri. Penggunaan discovery ini berusaha meningkatkan aktivitas dalam proses belajar mengajar adaupun kelebihannya sebagai berikut: a. Mampu membantu siswa untuk mengembangkan memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/ pengenalan siswa b. Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh/ mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut c. Teknik ini mampu membangkitkan kegairahan belajar para siswa d. Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuaanya masing- masing e. Mampu mengarahkn cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat f. Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri g. Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja, membantu jika diperlukan. Berlyne mengatakan bahwa belajar penemuan mempunyai beberapa keuntungan, model pembelajaran ini mengacu pada keingintahuan siswa, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaan hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan keterampilan berfikir kritis karena mereka harus menganalisis dan menangani informasi. Pembelajaran penemuan dibedakan menjadi dua, yaitu pemebelajaran penemuan bebas (free discovery learning) atau sering disebut open ended discovery dan pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery learning). Adaupun kelebihannya menurut teori ini adalah: a. Mengembangakan potensi intelektual. Menurut Bruner, trought guided discovery, a student slowly learner how to organize and carry out the investigations. Melalui penemuan terbimbing siswa yang lambat belajar akan mengetahui bagaimana menyusun, melakukan penyelidikan. Lebih lanjut dikatakan, one at the greates payyoffs of the guided discovery approach is that it aids better memory retention. Salah satu keuntungan pembelajaran dengan menggunakn pendekatan penemuan terbimbing adalah materi yang dipelajari lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses penemuannya. b. Mengubah siswa dari memiliki motivasi dari luar (extrinsic motivation) menjadi motivasi dari dalam diri sendiri (intrinsic motivation). Penemuan terbimbing membantu siswa untuk lebih mandiri, bisa mengarahkan diri sendiri, dan bertanggung jawab atas pembelajaran sendiri. Siswa akan memotivasi diri sendiri jika belajar dengan penemuan terbimbing. c. Siswa akan belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Anak- anak dapat dilibatkan secara aktif dengan mendengarkan, berbicara, membaca, melihat, dan berfikir. Jika otak anak selalu dalam keadaan aktif, pada saat itulah seorang anak sedang belajar. Piaget juga menegaskan, there is no learning without action. Melalui latihan untuk menyelesaikan masalah, seorang siwa akan belajar bagaimana belajar (learning to leran). d. Mempertahankan memori. Otak manusia seperti komputer. Permasalahn terbesar dalam otak manusia bukan pada penyimpanan data, melaikan bagaimana mendapatkan kembali data yang telah tersimpan didalamnya. Para ahli berpendapat bahwa cara paling mudah untuk mendapatkan data adalah pengaturannya (organization). Dengan pengaturan, manusia lebih mudah mendapatkan informasi apa yang dicari dan bagaimana mencarinya. Penelitian membuktikan, dengan pengaturan, informasi yang disimpan di dalam otak akan berkurang kerumitannya. Apalagi jika informasinya tersebut dibangun sendiri yang salah satunya dengan penemuan terbimbing. 2. Kekurangan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) a. Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keaadan sekitarnya dengan baik b. Jika strategi ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol keberhasilan peserta didik c. Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan d. Dengan teknik ini ada pendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertiaan saja, kurang memperhatikan perkembangan/ pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa e. Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berfikir secara kreatif f. Kadang- kadang dalam mengimplementasikan , memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan g. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan peserta didik menguasai pelajaran, maka strategi ini akan sulit di implementasikan oleh setiap guru. Joyce mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan pembelajaran discovery bagi peserta didik, yaitu: 1. Aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas- terbuka dan pesimif yang menggundang peserta didik berdiskusi 2. Berfokuspada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya 3. Penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelejaran dibicarakan validitas dan relibitas tentang fakta, sebaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dari materi diatas dapat kita simpulkan bahwa Discovery Learning merupakan pemebelajaran penemuan dimana kegiatan pembelajaran ini melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secar sistematis, kritis logis, analistis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Guru dalam mengembangkan sikap di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultam, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok. B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, diantaranya adalah kurangnya referensi yang relevan dan pembahasan yang kurang mendetail. Untuk itu, penulis menyarankan bagi pembaca untuk memahami adanya kekurangan tersebut, dan bagi penulis lanjutan untuk menyempurnakan makalah ini.

Pembelajaran Langsung

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian pembelajaran langsung Model pembelajaran langsung di desain bagi siswa dalam mempelajari pengetahuan yang terstruktur dan dapat dipelajari melalui tahap demi tahap. Model ini berpusat pada guru (teacher centered) dan mealndaskan pada 3 ciri: (1) Tipe siswa yang dihasilkan, (2) alur atau sintaks dalam proses pembelajarannya, dan (3) lingkungan atau suasana belajarnya. Pembelajaran langsung mempunyai tujuan seperti berikut: direct intructions aims at accomplishing twon major learner outcomes: mastery of well structured academic content and acquistin of all kinds of skill. Artinya, pembelajaran langsung memiliki dua tujuan utama, yaitu agar siswa menguasai bahan pelajaran dan memiliki berbagai keterampilan. Dalam menciptakan lingkungan suasan belajar, model pembelajaran langsung memerlukan perilaku khusus dan beberapa keputusan guru. Tekanan dalam melaksanakan model pembelajaran langsung adalah agar siswa menguasai engetahuan yang berupa pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu. Pengetahuan deklaratif bersifat sebagai pengetahuan yang mendasari bagi pengembangan dan pengetahuan, pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati dipihak guru. Agar efektif, pembelajaran langsung mensyaratkan tiap detail keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama dan demontrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilakukan secara seksama. Dalam pembeljaran langsung, penguasaan konsep dan perubahan perilaku siswa dilakukan secara deduktif. Guna sebagai penyampai informasi sudah seharusnya melakukan variasi gaya pengajar, variasi media agar agar pembelajaran tidak terkesan menoton dan membosankan. Pengembangan model pembelajaran langsung dilandasi oleh latar belakang teoritik dan empirik tertentu. Diantaranya adalah ide-ide dari bidang sistem analisis, teori pemodelan sosial dan perilaku serta hasil penelitian tentang keaktifan guru dalam melaksanakan fungsinya. Gagne & Briggs mengemukakan pandangan tentang analisis sistem dalam bidang pendidikan sebagai berikut. Pengajaran yang dirancang secara sistematik akan berpengaruh besar terhadap pengembangan individu. Brberapa pakar pendidikan mengemukakan bahwa pendidkan akan menjadi paling baik jika dirancang hanya untuk memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh lingkungan belajar yang menunjang dan berkembang sesuai kemampuan dan aktivitasnya sendiri, tanpa adanya paksaan apapun. B. Sintaks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran Pada model pengajaran lansung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Pengajaran lansung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek dan kerja kelompok. Pengajaran lansung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang di tranformasikan lansung oleh guru kepada siswa. Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan. Sintaks Model Pengajaran Lansung tersebut disajikan dalam 5 tahap, seperti yang ditunjukkan Tabel 3.1 berikut. Fase Peran Guru Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Fase 3 Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik. Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. Pada fase persiapan, guru memotivasi siswa agar siap menerima presesntasi materi pelajaran yang dilakukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata. Dari tabel diatas secara terperinci diuaraikan fase-fase dari model pembelajaran lansung sebagai berikut. 1. Menyampaikan dan Menetapkan Tujuan Pembelajaran a. Menyampaikan Tujuan Pengajar memberikan penjelasan tujuan pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk belajar. Tujuan langkah ini untuk menarik perhatian dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi siswa agar berperan dalam pembelajaran. b. Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari. Menyiapkan siswa dapat dilakukan dengan cara menyampaikan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa yang mungkin akan mendukung pemahaman konsep atau pengetahuan prosedural yang akan diberikan. 2. Mendemonstrasikan Pengetahuan atau Keterampilan Saat mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan oleh guru yang perlu diperhatikan adalah kejelasan dalam melakukan dan menjelaskannya. Kunci untuk berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif. Kejelasan yang dicapai melalui perencanaan dan pengorganisasian materi dengan struktur yang baik. Agar kejelasan tahap demi tahap dicapai, sebaiknay guru membuat analisis tugas. Tujuan yang akan dicapai dipecah menjadi tujuan-tujuan langkah-langkah yang lebih kecil dan mengurutkannya mulai dari tugas akhir kemudian mundur selangkah demi selangkah. 3. Memberikan Latihan Terbimbing Dalam tahap ini perlu diperhatikan adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing” beberapa poin yang dapat dijadikan acuan, sebagai berikut. a. Berikan siswa kesempatan untuk melakukan latihan singkat dan bermakna. Jika keterampilannya kompleks, pada awal pelatihan perlu disederhanakan. b. Berikan pelatihan sampai benar-benar menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari. Penguasaan demikian ditandai oleh kemampuan siswa melakukan keterampilan secara otomatis. 4. Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik Fase ini ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh guru kepada siswa dan siswa memberikan jawaban yang menurut pendapat mereka benar. Tugas paling penting bagi guru dalam menggunakan model pembelajaran lansung adalah memberikan siswa umpan balik yang bermakna dan pengetahuan tentang hasil latihan yang diperoleh siswa. Tanpa umpan balik spesifik, siswa tak mungkin dapat memperbaiki kekuarangan atau kesalahannya dan tidak dapat mencapai tingkat penguasaan keterampilan yang mantap. 5. Memeberikan Perluasan Latihan Mandiri Bentuk latihan mandiri dapat berupa pekerjaan rumah atau latihan mandiri yang digunakan untuk memperpanjang waktu belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri diantaranya: a) pilih tugas mandiri yang dapat dikerjakan oleh siswa dirumah secara mandiri; b) tugas kelanjutan dari prosen pembelajaran, tetapi merupakan pelatihan atau persiapan untuk petemuan berikutnya. Dipihak lain seorang tokoh mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks pemmbelajaran lansung, sebagai berikut: a. Guru memaparkan tujuan pembelajaran serta hal apa saja yang harus dipelajari oleh siswa. b. Guru memberikan apersepsi dalam bentuk review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Hal ini dilakukan untuk megungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa. c. Guru menyampaikan materi pelajaran secara lansung dnegan menyajikan informasi, meberikan contoh-contoh maupun mendemonstrasikan konsep. d. Guru melakukan pembimbingan, baik dengan memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman siswa maupun mengoreksi kesalahan konsep yang dilakukan oleh siswa. e. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih secara individu atau kelompok berdasarkan pengetahuan baru yang telah diperolah termasuk melalui pembimbingan kembali. f. Guru memberikan latihan secara mandiri untuk meningkatkan pemahaman siswa akan materi yang telah dipejari. C. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Lansung Sebagaimana halnya setiap mengajar, pelaksanaan yang baik model pengajaran lansung memerlukan tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlansungnya perencanaan, pada saat melaksanakan pembelajaran dan waktu menilai hasilnya. Beberapa diantara tindakan-tindakan tersebut dapat dijumpai pada model-model pengajaran yang lain, langkah-langkah atau tindakan tertentu merupakan ciri khusus pengajaran lansung. Ciri utama unik terlihat dalam melaksanakan suatu pengajaran lansung adalah sebagai berikut: 1. Tugas-tugas Perencanaan Pengajaran lansung dapat diterapkan di bidang studi apapun, namun model ini paling sesuai untuk mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik dan pendidikan jasmani. Disamping itu pengajaran lansung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejaran dan sains. a. Merumuskan Tujuan Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat digunakan model Mager. Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran khusus harus sangat spesifik. Tujuan yang ditulis dalam format Mager dikenal sebagai tujuan perilaku dan terdiri dari tiga bagian. 1) Perilaku siswa, apa yang akan dilakukan siswa/jenis-jenis perilaku siswa yang diharapkan guru untuk dilakukan sebagai bukti bahwa tujuan itu telah dicapai. 2) Situasi pengetesan, dibawah kondisi tertentu perilaku itu akan teramati atau diharapkan terjadi. 3) Kriteria kinerja, ditetapkan standar atau tingkat kinerja sebagai standar atau tingkat kinerja yang dapat diamati. Singkatnya, menurut Mager tujuan yang baik perlu berorientasi pada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang situasi penilaian (kondisi evaluasi) dan mengandung tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan). b. Memilih Isi Kebanyakan guru pemula meskipun telah beberapa tahun mengajar, tidak dapat diharapkan akan menguasai sepenuhnya materi pelajaran yang diajarkan. Bagi mereka yang masih dalam proses menguasai sepenuhnya materi ajar, disarankan agar dalam memilih materi ajar mengacu pada GBPP kurikulum yang berlaku, dan buku ajar tertentu. c. Melakukan Analisis Tugas Analisis tugas ialah alat yang digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi dengan presisi yang tinggi hakikat yang setepatnya dari suatu keterampilan atau butir pengetahuan yang terstruktur dengan baik yang akan diajarkan oleh guru. Ide yang melatar belakangi analisis tugas ialah bahwa informasi dan keterampilan yang kompleks tidak dapat dipelajari semuanya dalam kurun waktu tertentu. Untuk mengembangkan pemahaman yang mudah dan pada akhirnya penguasaan, keterampilan dan pengertian kompleks itu lebih dahulu harus dibagi menjadi komponen bagian, sehingga dapat diajarkan berurutan dengan logis dan tahap demi tahap. d. Merencanakan Waktu dan Ruang Pada suatu pengajaran lansung, merencanakan dan mengelola waktu merupakan kegiatan yang sangat penting. Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh guru: (1) memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa, dan (2) memotivasi siswa agar mereka tetap melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Mengenal dengan baik siswa-siswa yang akan diajar, sangat bermanfaat untuk menentukan alokasi waktu pembelajaran. Merencanakan dan mengelola ruang untuk pengajaran lansung juga sama pentingnya. 2. Langkah-langkah Pembelajaran Model Pengajaran Lansung Langkah-langkah pengajaran model pembelajaran lansung pada dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umum. Langkah-langkah pengajaran lansung meliputi tahapan sebagai berikut: a. Meyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu. b. Menyampaikan Tujuan Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpatisipasi dalam suatu pelajaran tertentu dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu. Penyampaian tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskannya di papan bulletin yang berisi tahap tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap. c. Menyiapkan Siswa Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memutuskan perhatian siswa pada pokok pembicaraan dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang dipelajari. d. Presentasi dan Demonstrasi Fase kedua pengajaran lansung adalah melakukan presentasi atau demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil adalah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif. e. Mencapai Kejelasan Hasil-hasil penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik pada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Sementara itu para peneliti dan pengamat terhadap guru pemula dan belum berpengalaman menemukan banyak penjelasan yang kabur dan membingungkan. Hal ini pada umumnya terjadi pada saat guru tidak menguasai sepenuhnya isi pokok bahasan yang dikerjakannya dan tidak menguasai teknik komunikasi yang jelas. f. Melakukan Demonstrasi Pengajaran lansung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal daei mengamati orang lain. Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, emnghindari siswa dari belajar melalui “trial and error”. g. Mencapai Pemahaman dan Penguasaan Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memerhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti bahwa jika guru menghendaki agar siswa-siswanya dapat melakukan sesuatu yang benar guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga benar. h. Berlatih Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif dan memerhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan. i. Memberikan Latihan Terbimbing Salah satu tahappenting dalam pengajaran lansung ialah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing.” Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi membuat belajar berlansung dengan lancar dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru. j. Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik Tahap ini kadang-kadang disebut juga dengan tahap resitasi yaitu guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswa dan guru memberikan respons terhadap jawaban siswa. k. Memberikan Kesempatan Latihan Mandiri Pada tahap ini, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerpakan keterampilannya yang baru saja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan oleh siswa secara pribadi yang dilakukan dirumah atau diluar jam pelajaran. 3. Strategi Pembelajaran Modeling Satu ciri dalam pembelajaran lansung adalah diterapkannya strategi modeling. Strategi modeling adalah strategi yang dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa seseorang dapat belajar melalui pengamatan prilaku orang lain. Strategi belajar modeling berangkat dari teori belajar sosial yang juga disebut belajar melalui observasi atau menurut Arends disebut juga dengan teori pemodelan tingkah laku. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pembelajaran langsung mempunyai tujuan seperti berikut: direct intructions aims at accomplishing twon major learner outcomes: mastery of well structured academic content and acquistin of all kinds of skill. Artinya, pembelajaran langsung memiliki dua tujuan utama, yaitu agar siswa menguasai bahan pelajaran dan memiliki berbagai keterampilan. Menurut Arends (dalam Trianto, 2009) adalah suatu model pembelajaran dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik, dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap selangkah demi selangkah. Model pembelajaran langsung memiliki lima fase yang sangat penting, yaitu : a. Fase 1 : Fase Penyampaian Tujuan b. Fase 2 : Fase Presentasi/Demonstrasi c. Fase 3 : Fase Pelatihan d. Fase 4 : Fase Pemahaman dan Umpan Balik e. Fase 5 : Fase Penerapan B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penulisan masih banyak kekurangan diantaranya adalah kurangnya referensi yang relevan dan pembahasan yang kurang detail. Dan kiranya makalah kami ini sangat jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi meningkatkan kesempurnaan makalah yang kami tulis ini.

Sunday, 21 October 2018

DAMPAK TEORI KEPRIBADIAN MENURUT EYSENK

DAMPAK TEORI KEPRIBADIAN MENURUT EYSENK TERHADAP PENDIDIKAN TUGAS RESUME Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian oleh Bapak Fathol Haliq, M.Si. Di susun oleh: Nama : Badrud Tamam NIM :18201501010033 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN 2017 Dampak Teori kepribadian menurut eysenk terhadap pendidikan A. Kepribadian menurut Eysenk Kepribadian adalah sebenarnya merupakan seluruh potensi tingkah laku individu yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian individu berasal dan berkembang oleh adanya interaksi empat faktor, yaitu inteleginsi, karakter, temperamen, dan somatic. B. Dimensi Kepribadian Tiga dimensi kepribadian Eysenck adalah Ekstraversi (E), Neurotisme (N), dan Psikotik (P). Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian. 1. Ekstraversi Konsep yang dimiliki Eysenck mengenai ekstraversi dan introversi lebih dekat dengan penggunaan popular dari kedua istilah ini. Orang-orang ekstrover mempunyai karakteristik utama, yaitu kemampuan bersosialisasi dan sifat impulsif, senang bercanda, penuh gairah, cepat dalam berpikir, optimis, serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan orang-orang yang menghargai hubungan mereka dengan orang lain. Orang-orang introvert mempunyai karakteristik sifat-sifat yang berkebalikan dari mereka yang ekstrover. Mereka dapat dideskripsikan sebagai pendiam, pasif, tidak terlalu bersosialisasi, hati-hati, tertutup, penuh perhatian, pesimistis, damai, tenang, dan terkontrol. Akan tetapi, menurut Eysenck, perbedaan paling mendasar antara ekstraversi dan introversi bukan terletak pada perilaku, melainkan pada sifat dasar biologis dan genetiknya. Eysenck yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara orang ekstrover dan introvert adalah tingkat rangsangan kortikal-suatu kondisi fisiologis yang sebagian besar diwariskan secara genetic daripada dipelajari.oleh karena orang ekstrover mempunyai tingkat rangsangan kortikal yang lebih rendah daripada yang introvert, mereka mempunyai ambang sensoris yang lebih tinggi sehingga akan bereaksi lebih sedikit pada stimulus sensoris. Sebaliknya, orang-orang introvert mempunyai karakteristik berupa tingkat rangsangan kortikal yang lebih tinggi, sehingga mempunyai ambang sensoris yang lebih rendah dan mengalami reaksi yang lebih banyak pada stimulus sensoris. 2. Neurotisme Seperti ekstraversi-introversi, neurotisisme-kestabilan mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck menyatakan bahwa beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif- kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar- fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme. Orang-orang yang mempunyai skor tinggi dalam neurotisme mempunyai kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional, dan mempunyai kesulitan untuk kembali ke kondisi normal setelah tersimulasi secara emosional. Mereka sering mengeluhkan gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala dan sakit punggung, serta mempunyai masalah psikologis yang kabur, seperti kekhawatiran dan kecemasan.Akan tetapi, neurotisme tidak selalu mengindikasikan suatu neurosis dalam artian tradisional dari istilah tersebut. Orang dapat saja mempunyai skor tinggi dlam neurotisme, tetapi terbebas dari gejala psikologis yang bersifat menghambat. Neurotisme dapat dikombinasikan dengan titik-titik yang berbeda-beda dalam skala ekstravers, tidak ada satu sindrom yang dapat mendefinisikan perilaku neurotis.Teknik analisis factor Eysenck mengasumsikan indepedensi factor-faktor, yaitu bahwa skala neurotisme mempunyai sudut siku-siku dengan skala ekstraversi (mengindikasikan kolerasi nol). Oleh karna itu, beberapa orang dapat mempunyai skor yang tinggi dalam skala N, tetapi menunjukkan gejala-gejala yang berbeda, bergantung pada derajat ekstraversi atau introversi mereka. Beriut gambar hubungan Ekstrover-Introver dan Neurotisme-Kestabilan. 3. Psikotik Teori awal Eysenck mengenal kepribadian didasrai oleh dua dimensi kepribadian- ekstraversi dan neurotisme. Setelah beberapa tahun merujuk psikotik (P) secara tidak langsung sebagai faktor independen kepribadian, Eysenck akhirnya menaikkannya ke posisi yang setara dengan E dan N. Seperti ekstraversi dan neurotisme, P adalah faktor yang bersifat bipolar, dengan psikotik dalam satu kutub dan superego dalam kutub yang lainnya. Orang dengan skor P tinggi biasanya egosentris, dingin, tidak mudah menyesuaikan diri, impulsif, kejam, agresif, curiga, psikopatik, dan antisosial. Orang dengan skor psikopatik yang rendah (yang mengarah pada fungsi superego) cenderung bersifat altruis, mudah bersosialisasi, empati, peduli, kooperatif, mudah menyesuaikan diri, dan konvensional. Eysenck memiliki hipotesis bahwa orang-orang yang memiliki skor psikotik yang tinggi mempunyai “predisposisi untuk menyerah pada stres dan mempunyai penyakit psikotok” yang tinggi. Model diatesis-stres ini mengidendikasikan bahwa orang-orang yang mempunyai skor P yang tinggi, secara genetis lebih rentan terhadap stres dari pada yang mempunyai skor P yang rendah. Pada periode stres yang rendah, orang dengan skor P tinggi masih dapat berfungsi dengan normal, tetapi saat tingkat psikotik yang tinggi berinteraksi dengan kadar stres yang juga tinggi, orang tersebut menjadi lebih rentan terhadap gangguan psikotik. Sebaliknya, orang dengan skor P rendah tidak terlalu rentan pada psikosis yang berhubungan dengan stres, dan mungkin tidak akan mengalami kehancuran secara psikotik pada periode stres yang ekstrem. Menurut Eysenck, semakin tinggi skor psikotik, semakin rendah kadar stres yang dibutuhkan untuk menimbulkan reaksi psikotik. Dengan demikian, pandangan Eysenck terhadap kepribadian memperbolehkan setiap orang untuk diukur dalam tiga faktor yang independen, dan skor yang dihasilkan akan dipetakan pada ruang dengan tiga koordinat. Sebagai contoh, orang F pada gambar dibawah memiliki skor yang cukup tinggi pada superego, tinggi pada ekstraversi, dan berada mendekati titik tengah pada skala neurotisme/stabilitas. Dalam bentuk yang serupa, skor dari masing-masing orang dapat di dalam ruang tiga dimensi. C. Dampak teori kepribadian Eysenk Dari penjelasan diatas dapatlah diambil kesimpulan beberapa dampak kepribadian menurut Eysenk yang sudah menjadi temuan riset terhadap pendidikan. Hasil penelitian ini berupa keadaan siswa atau mahasiswa yang mempunyai kepribadian ekstrover atau introver. Kebiasaan ekstrover dan introver menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa. Riset tersebut menguji apakah perbedaan kepribadian tersebut diasosiasikan dengan perbedaan pemilihan dan bagaimana cara belajar. Sesuai dengan teori perbedaan individual Eysenk, ditemukan beberapa hal berikut: 1. Siswa ekstrover lebih sering memilih belajar dilokasi perpustakaan yang memberikan stimulasi eksternal disbanding siswa introver. 2. Ekstrover mengambil istirahat belajar yang lebih banyak disbanding introver. 3. Ekstrover memilih tingkat suara yang lebih tinggi dan peluang sosialisaiyang lebih banyak dibandingkan introver. Jadi, dengan adanya teori kepribadian Eysenk guru dapat mengetahui apa hal yang cocok bagi siswa yang ia ajarkan. Guru dapat mengembangkan motivasi siswa dengan menciptakan suatu lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswanya. Guru harus jeli dalam melihat kelompok siswa yang ada dikelasnya, apakah tipe individualis, kooperatif, atau kompetitif. Daftar Pustaka Prawira, Purwa Atmaja, psikologi kepribaian, Jogjakarta: Ar-ruzz Media,2013. Pervin, Lawrence A., Psikologi kepriadian, teori dan penelitian, Jakarta: Prenada Media Group, 2004.

Metode Dakwah

Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 BAB I 3 PENDAHULUAN 3 A. Latar Belakang Masalah 3 B. Pembatasan Masalah 3 C. Rumusan Masalah 4 D. Tujuan Penulis...